Pendaftaran Santri Mahasiswa Baru STIKes Surya Global TA 2019 2020 masih dibuka sampai akhir September 2019 -- Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- PENDAFTARAN MAHASISWA BARU STIKES SURYA GLOBAL 2019 2020 telah DIBUKA -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺
GENERAL INFORMATION
Selasa, 09 Juni 2015, 2:08 WIB

KENDALIKAN PENGGUNAAN TEMBAKAU, DEMI MASA DEPAN PEMUDA BANGSAKU.

KENDALIKAN PENGGUNAAN TEMBAKAU, DEMI MASA DEPAN PEMUDA BANGSAKU.

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIKes Surya Global,- Yogyakarta 30 mei 2015.

Rokok adalah zat adiktif yang apabila dikonsumsi akan mengakibatkan ketagihan dan kecanduan, baik secara fisik maupun psikis. Hal ini dikarenakan rokok mengandung zat adiktif sehingga termasuk dalam golongan napza, seperti Narkotika dan Psikotropika. Mengkonsumsi rokok dapat menyebabkan berbagai jenis penyakit berbahaya, seperti penyakit jantung koroner, kanker paru-paru, kanker kulit, hilangnya pendengaran, kanker uterus, katarak, tukak lambung, emfisema, bahkan kematian. Hal ini diakibatkan karena ada lebih 4000 zat kimia yang dihasilkan ketika membakar rokok dan setidaknya 69 bahan kimia itu diketahui pasti dapat menyebabkan kanker (karsinogenik). Menurut data dari Riskesdas tahun 2010, prevalensi perokok di Indonesia sangat tinggi dan didominasi oleh masyarakat berpendidikan rendah sebesar 37,8% dan juga masyarakat miskin sebesar 35%.
Menurut data dari riskesdas tersebut, prevalensi perokok rokok terus meningkat dan hal tersebut diakibatkan oleh lemahnya regulasi di Indonesia. Dengan  lemahnya regulasi pengendalian tembakau di Indonesia membuat semakin tingginya angka konsumsi rokok di Indonesia yang menyebabkan semakin terancamnya kesehatan akibat rokok di Indonesia. Hal ini secara langsung atau tidak langsung telah menyebabkan kerugian besar, terutama pada kemerosotan kualitas sumber daya manusia dari generasi muda Indonesia. Sehingga solusinya adalah dengan mengikuti protokol WHO untuk pengendalian tembakau yang terangkum dalam WHO Framework Convention of Tobacco Control (FCTC). Lalu apa yang menyebabkan Negara kita tidak menandatangani dan mengksesi FCTC!
Bertujuan untuk melindungi generasi saat ini dan generasi mendatang dari dampak buruk konsumsi tembakau dan paparan asap rokok dalam bidang kesehatan, sosial, lingkungan dan ekonomi . Saat ini sudah ada 177 negara yang telah menyetujui FCTC. Namun, masih ada negara yang belum menandatangani dan mengaksesi FCTC, yaitu Andora (Eropa), Eritrea (Afrika), Monaco (Eropa), Somalia (Afrika), Zimbabwe (Afrika), dan Indonesia (Asia). Indonesia merupakan Negara satu – satunya Negara di Asia yang belum meratifikasi FCTC dengan jumlah penduduk terbanyak di antara kedelapan negara tersebut, yaitu sebanyak 242, 3 juta jiwa.
FCTC mengatur berbagai pengendalian permintaan (demand) tembakau dan pengendalian pasokan (supply) tembakau, seperti kebijakan harga dan cukai rokok (pasal 6), perlindungan dari asap rokok (pasal 8), Iklan promosi dan produk sponsor rokok (pasal 13), Edukasi (pasal 12), Perdagangan ilegal produk tembakau (pasal 15), dan sebagainya. Maka dari itu FCTC mempunyai regulasi dan protokol yang cukup jelas dan menjanjikan dalam pengendalian tembakau. Namun, dalam aplikasinya, FCTC memberi kedaulatan sepenuhnya kepada negara untuk disesuaikan dengan keadaan setiap negara, dan FCTC tidak akan mengurangi kesejahteraan petani tembakau karena dalam FCTC ada yang namanya diversifikasi produk. Sehingga ditinjau dari aspek mana pun, aksesi FCTC merupakan hal yang urgent bagi bangsa Indonesia.

#Hari tanpa tembakau sedunia_BEMSSG2015
#Worldnotobaccoday