Pendaftaran Santri Mahasiswa Baru STIKes Surya Global TA 2020 2021 sudah dibuka -- Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺
CAMPUS NEWS
Senin, 14 September 2020, 9:58 WIB

REMAJA DAN ROKOK (Bagian Pertama)


Oleh: Gᴀɴɪ Aᴘʀɪɴɪɴɢᴛʏᴀs Bᴜᴅɪʏᴀᴛɪ, S.Kᴇᴘ.,Ns.,M.Kᴇᴘ

𝖣𝗈𝗌𝖾𝗇 𝖯𝗋𝗈𝖽𝗂 𝖪𝖾𝗉𝖾𝗋𝖺𝗐𝖺𝗍𝖺𝗇 𝖲𝖳𝖨𝖪𝖾𝗌 𝖲𝗎𝗋𝗒𝖺 𝖦𝗅𝗈𝖻𝖺𝗅




Membahas dunia remaja merupakan hal yang cukup menarik, mengingat remaja identik dengan masa peralihan atau transisi dari anak-anak ke dewasa. Remaja juga identik dengan masa yang penuh tantangan, aksi dan coba-coba. Tak lepas pula dengan bentuk perilaku yang terkadang menyimpang dari norma.



Salah satu hal yang sebenarnya tidak lazim pada remaja yaitu perilaku merokok. Perilaku merokok sendiri secara umum menyimpan banyak kontroversi dalam kalangan dewasa maupun ranah kebijakan. Hal ini menjadi semakin kontroversi ketika perilaku merokok dilakukan oleh kalangan remaja yang notabene dapat dikategorikan di bawah umur.




Beberapa pendapat mengungkapkan bahwa perilaku merokok pada remaja merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang atau kenakalan pada remaja. Hal ini tentu sebisa mungkin menjadi perhatian bersama agar para remaja dapat kembali berperilaku sebagaimana usianya. Hal yang dapat dilakukan antara lain dengan mengetahui faktor atau alasan yang membuat remaja melakukan perilaku merokok. Baik internal maupun eksternal. Apa saja itu? Beberapa penelitian menyatakan alasan remaja melakukan perilaku merokok jika dilihat dari sisi eksternal yaitu:



 



𝟏. 𝐃𝐢𝐚𝐣𝐚𝐤 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧/𝐢𝐤𝐮𝐭 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧

Teman merupakan lingkaran kehidupan remaja yang terkadang memiliki makna penguat satu sama lain. Remaja dapat saja menerima alasan dan ajakan dari teman melebihi ajakan dari keluarga. Oleh karena itu, teman dapat menjadi salah satu alasan remaja melakukan perilaku merokok tanpa mereka mengetahui secara pasti esensi merokok itu sendiri. Selain itu merokok juga menjadi alat remaja untuk dapat diterima dalam kelompok pertemanannya dan menjadi alat bagi remaja untuk bergaul dalam kelompok pertemanannya.




𝟐. 𝐀𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐥𝐮𝐚𝐫𝐠𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤 𝐝𝐢 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐥𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐭𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚𝐥.

Keluarga dalam hal ini bisa orang tua maupun saudara yang tinggal dala lingkungan/rumah yang sama dengan remaja menjadi salah satu faktor penyebab remaja dapat melakukan perilaku merokok. Remaja sebagaimana kondisi psikologisnya mencari jati diri, menemukan 𝘳𝘰𝘭𝘦 𝘮𝘰𝘥𝘦𝘭 terdekat yaitu keluarganya. Ketika remaja memiliki lingkungan kerluarga yang permisif terhadap rokok, maka remaja dapat mempersepsikan bahwa perilaku merokok dapat diterima dalam keluarga tersebut. Selain itu, hal ini juga turut menguatkan keinginan remaja melakukan hal yang sama dengan keluarganya.




𝟑. 𝐀𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤/𝐠𝐮𝐫𝐮 𝐭𝐞𝐦𝐩𝐚𝐭 𝐫𝐞𝐦𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤

Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas waktu dihabiskan oleh para remaja ini di sekolah. Sekolah terkadang telah menjadi rumah kedua bagi remaja untuk merokok. Interaksi remaja dan guru tidak dapat dipungkiri menjadi hubungan tersendiri dalam membentuk suatu perilaku. Guru merupakan teladan bagi para murid, Adanya guru yang merokok baik disengaja maupun tidak turut meyumbangkan persepsi permisif bagi remaja terhadap perilaku merokok.




𝟒. 𝐋𝐢𝐧𝐠𝐤𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐨𝐥𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐛𝐞𝐥𝐮𝐦 𝐦𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞𝐛𝐢𝐣𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐠𝐚𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐡𝐚𝐝𝐚𝐩 𝐥𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤

Kebijakan tentang larangan merokok ini sudah menjadi kampanye tersendiri untuk mencegah perilaku merokok pada remaja yaitu tentang Kawasan Bebas Asap Rokok. Beberapa sekolah telah menerapkan kebijakan ini secara menyeluruh dan tegas. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa sekolah belum sepenuhnya menegakkan aturan tegas terkait Kawasan Bebas Asap Rokok dan cenderung tidak memberikan sanksi yang tegas bagi para perokok.




𝟓. 𝐈𝐤𝐥𝐚𝐧 𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤

Iklan rokok yang selalu menunjukkan tentang maskulinitas sebagai ikon merokok turut tertanam pada alam bawah sadar para remaja untuk membentuk pribadi yang sama dengan cara merokok. Iklan rokok senantiasa menggambarkan bahwa sosok maskulin dan dapat menaklukkan tantangan selalu memiliki kaitan dengan rokok.




𝟔. 𝐀𝐝𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐩𝐨𝐧𝐬𝐨𝐫 𝐚𝐜𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐚𝐮𝐩𝐮𝐧 𝐛𝐞𝐚𝐬𝐢𝐬𝐰𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐫𝐨𝐤𝐨𝐤

Tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa acara baik berupa konser musik, olahraga maupun acara lain bertaburan iklan dan sponsor rokok. Hal ini turut memberi citra bahwa rokok dan merokok adalah hal yang biasa dan menyajikan sebentuk kesuksesan. Begitu pula dengan banyaknya beasiswa yang disponsori oleh perusahaan-perusahaan rokok turut menyumbangkan sebuah persepsi bahwa rokok memberikan manfaat secara luas dalam pendidikan.