Pendaftaran Santri Mahasiswa Baru STIKes Surya Global TA 2020 2021 sudah dibuka -- Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- PENDAFTARAN MAHASISWA BARU STIKES SURYA GLOBAL 2019 2020 telah DIBUKA -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺
CAMPUS NEWS
Selasa, 18 Juni 2019, 1:17 WIB

SYAWALAN KELUARGA BESAR PESANTREN STIKES SURYA GLOBAL

Setelah liburan 'Idul Fitri 1440 Hijriyah, majelis STIKes Surya Global menyelenggarakan acara "Syawalan Keluarga Besar Pesantren STIKes Surya Global" yang dihadiri para pengurus Majelis dan dosen untuk memperkuat tali ukhuwah. Acara ini diselenggarakan di Masjid Baitu Surga STIKes Surya Global pada hari Sabtu 15 Juni 2019.


Dalam acara Syawalan ini diisi pengajian yang disampaikan oleh ustadz KH. Ghozali Mukri, Lc, MA. Beliau menyampaikan tradisi Syawalan memang hanya ada di Indonesia, bukan merupakan ibadah yang menjadi tuntunan. Maka dari itu acara Syawalan, Halal bi Halal tidak dijumpai di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya seperti di Timur Tengah. Memang di zaman Nabi tradisi Syawalan seperti yang diadakan di Indonesia tidak ada. Tapi apakah setiap yangg tidak dilakukan Nabi kemudian kita tidak boleh melakukan? Perlu diketahui bahwa apa yang semua dilakukan oleh Nabi itu merupakan hal yang wajib. Nah bolehkah kita sholat hari raya di masjid? Padahal Nabi tidak mengerjakan. Pilihan Nabi yang tidak mengerjakan sholat hari raya di masjid itu bukan menunjukkan hukumnya wajib, tapi itu hanya menunjukkan hukum afdholiyah atau keutamaan. Sholat Hari Raya baik 'Idul Fitri maupun 'Idul Adha memang lebih baik di lapangan sebagai syiar, tapi tidak berarti sholat hari raya di masjid itu tidak boleh atau bid'ah.


Satu contoh umpamanya Nabi itu tidak pernah melakukan sholat Hari Raya baik sholat Idul Fitri maupun Idul Adha itu di masjid. Tidak ada satupun hadist yang shahih yang mengatakan bahwa Rasulullah pernah sholat hari raya di masjid.


Contoh lainnya sholat Tahiyatul Masjid. Tidak ada satu pun hadist yang menyebutkkan bahwa Nabi mengerjakan sholat Tahiyatul Masjid. Lalu apa dasarnya kita melakukan sholat Tahiyatul Masjid? Dasarnya adalah bukan perilaku nabi tapi sabda Nabi.


Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda,


إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 & Muslim no. 714)


Jadi apa yang kita kerjakan itu hanya berdasar sabda beliau. Nah, menurut ulama Ushul Fiqih ucapan Nabi, sabda Nabi itu lebih kuat dibandingkan perbuatan Nabi. Makanya kita harus banyak membaca referensi-referensi.


Untuk menilai hadits itu shahih atau tidak tidak bisa dinilai dari sanadnya atau periwayatannya, tapi juga dilihat dari matan atau redaksinya. Dan hadits yang shahih dari segi sanad dan matan ini masih diuji lagi apakah bertentangan dengan Al Qur'an, bertentangan dengan hadits shahih lainnya atau bertentangan dengan realita pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .


Termasuk misalnya sholat wanita, apakah lebih baik di rumah atau di masjid? Dalam sebuah riwayat disebutkan:


أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ أَنَّهَا جَاءَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُحِبُّ الصَّلاةَ مَعَكَ قَالَ قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلاةَ مَعِي وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي قَالَ فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid As-Sa’idy, sesungguhnya beliau datang (menemui) Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku suka shalat bersama anda engkau. Beliau menjawab: “Sungguh aku mengetahui bahwa engkau suka menunaikan shalat bersamaku, akan tetapi shalatmu di kamar tidurmu lebih baik dibandingkan shalatmu di ruang tengah rumahmu, dan shalatmu di ruang tengah rumahmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid khusus rumahmu, dan shalatmu di masjid khusus rumahmu, lebih baik dibandingkan shalatmu di masjid di sekitar masyarakatmu, dan shalatmu di masjid sekitar masyarakatmu lebih baik dibandingkan shalatmu di masjidku. Kemudian dia (Ummu Humaid) minta dibangunkan baginya masjid (tempat shalat) di tempat paling ujung rumahnya dan paling gelap. Maka beliau shalat di sana sampai bertemu dengan Allah Azza Wa Jalla (wafat)." (HR. Ahmad)


Kalau dilihat dari haditsnya shahih tapi tidak hanya dari segi sanadnya, harus diuji dari segi matan , atau apakah bertentangan dengan hadits yang lebih shahih, atau bertentangan dengan Al Qur'an, atau bertentangan dengan realita yang ada pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Agar kita tidak mudah membid'ah-bid'ahkan.


Ayat Allah dalam Qur'an jelas menyatakan:


إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian… ” (QS. At-Taubah [9]: 18).


Dalam bahasa Arab, kata (إنما) dalam ilmu Balaghah, penggunaan gaya bahasa seperti ini mengandung faidah penguatan dan penegasan. kata (مَنْ) disini juga bersifat umum, baik laki-laki maupun perempuan. Termasuk memakmurkan masjid ini adalah sholat berjamaah.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan pertanyaan kepada sahabatnya, beliau bersabda :


أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ


“Apakah kalian tahu siapa muflis (orang yang pailit) itu?” Para sahabat menjawab,”Muflis (orang yang pailit) itu adalah yang tidak mempunyai dirham maupun harta benda.” Tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Muflis (orang yang pailit) dari umatku ialah, orang yang datang pada hari Kiamat membawa (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun (ketika di dunia) dia telah mencaci dan (salah) menuduh orang lain, makan harta, menumpahkan darah dan memukul orang lain (tanpa hak). Maka orang-orang itu akan diberi pahala dari kebaikan-kebaikannya. Jika telah habis kebaikan-kebaikannya, maka dosa-dosa mereka akan ditimpakan kepadanya, kemudian dia akan dilemparkan ke dalam neraka”. (HR Muslim no. 2581, at Tirmizi no. 2418 dan Ahmad 2/303, 334, 371, dari Abu Hurairah)


Nah momen Syawalan ini adalah momen yang tepat kita berbersih-bersih diri dari kesalahan baik ucapan atau perbuatan baik yang disengaja maupun tidak. Barangkali ada ucapan kita yang meski benar tapi dirasa oleh orang lain menyakiti hatinya.


Demikian ringkasan kajian yang disampaikan ustadz KH. Ghozali Mukri, Lc, MA. Acara selanjutnya adalah foto-foto bersama seluruh anggota Majelis dan para dosen Pesantren STIKes Surya Global. Kemudian dilanjutkan dengan bayan oleh bapak Dr. Anung Pranowo, SE, MM. selaku Ketua Yayasan Surya Global. Sebagai penutup dilanjutkan dengan salam-salaman, makan siang bersama dan sholat Dhuhur berjamaah. (Her/2019)