Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- PENDAFTARAN MAHASISWA BARU STIKES SURYA GLOBAL 2019 2020 telah DIBUKA -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺

Berita

Selasa, 12 September 2017, 2:08 WIB

ISNAYANI YULIANA, SANTRI MAHASISWI BERPRESTASI YANG MENGIKUTI PROGRAM BIDIKMISI KEMENRISTEKDIKTI


Isnayani Yuliana yang biasa dipanggil Yuli, santri mahasiswi semester III program studi Kesehatan Masyarakat konsentrasi Manajemen Rumah Sakit ini yang pada semester ganjil kemarin mendapat IPK 3,83 ini adalah salah satu santri mahasiswi asal Rarang Terara Lombok Timur Nusa Tenggara Barat yang tinggal di Pesantren STIKES Surya Global. Mahasiswi kelahiran Rarang, 11 April 1999 ini ketika masih sekolah di SMA 3 Mataram NTB di setiap kelas selalu mendapat rangking 3 besar. Yuli merupakan salah satu dari 20 santri mahasiswa STIKES Surya Global angkatan 2016 yang lolos seleksi untuk mengikuti program Bidikmisi yang diselenggarakan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.


Anak pertama dari 3 bersaudara bapak Nurudin dan ibu Mahsan ini juga pernah Juara Harapan 1 Menulis Artikel di NTB, kemudian Juara 3 Cerdas Cermat se Kecamatan Selaparang. Pernah juga mengikuti Lomba Dongeng Bahasa Jerman yang diadakan Goethe Institute. Gadis yang gemar membaca Novel Tere Liye , Rivai Ripan ini juga suka membaca Biografi Tokoh-tokoh Islam.

Santri Mahasiswa yang sekarang tinggal di lantai 3 Graha Santri Pesantren STIKES Surya Global ini menjawab bagaimana kesan selama tinggal di pesantren:

“Enak, rame, bisa belajar bareng dengan sesama santri lain meski beda program studi. “jawabnya.

Karena itulah Yuli biasa belajar jam 03:00 sampai jam 07:00 pagi. Salah satu yang menjadi semangat buat Yuli adalah motivasi dari kedua orang tuannya yang sebelumnya tidak merestui Yuli kuliah di Jawa. Apa pesan Yuli kepada mahasiswa-mahasiswa lain?

“Lebih banyak mengatur waktu, jangan terbebani dengan kuliah.“

Mahasiswi yang makanan favoritnya sambel tempe, ini juga bercita-cita melanjutkanke S-2 Kesehatan Kerja di Luar Negeri ini juga penyuka es krim dan coklat.

Program Bidikmisi

Bidikmisi adalah program  bantuan  biaya  pendidikan bagi calon mahasiswa tidak mampu secara ekonomi dan memiliki potensi akademik baik untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi pada program studi unggulan sampai lulus tepat waktu. Penyelenggara Program Bidikmisi ini adalah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Setiap warga  Negara Republik  Indonesia berhak  mendapatkan  pengajaran. Hak  setiap warga  Negara  tersebut  telah  dicantumkan  dalam  Pasal  31  (1) Undang-Undang Dasar 1945.  Berdasarkan  pasal  tersebut,  maka  Pemerintah  dan  Pemerintah  Daerah wajibmemberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi  setiap  warga  negara  tanpa  diskriminasi,  dan  masyarakat  berkewajiban memberikan  dukungan  sumber  daya  dalam  penyelenggaraan  pendidikan.  Untukmenyelenggarakan  pendidikan  yang  bermutu  diperlukan  biaya  yang  cukup  besar. Oleh karena  itu  setiap  peserta  didik  pada  satuan  pendidikan  berhak  mendapatkan  bantuan biaya  pendidikan bagi  mereka  yang  memiliki  potensi  akademik baik dan tidak  mampusecara ekonomi serta berhak mendapatkan beasiswa bagi mereka yang berprestasi.

Lulusan Program Bidikmisi, diharapkan dapat mengisi  kebutuhan  sumberdaya  manusia  Indonesia  yang  siap  berkompetisi  diera Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Fakta  menunjukkan  bahwa  pemberian  Beasiswa  Bidikmisi  telah  memberikan  dampak ikutan selain bagi mahasiswa itu sendiri, yaitu meningkatnya prestasi dan iklim akademik di suatu perguruan tinggi. Dengan adanya mahasiswa Bidikmisi, maka kualitas perguruan tinggi  juga  meningkat.  Ini  terjadi  karena  mahasiswa  penerima  beasiswa  Bidikmisi memiliki  prestasi  yang  dapat  dibanggakan  (IPK  rata-rata  di  atas  3),  sehingga mampu meningkatkan prestasi atau kualitas perguruan tinggi. Hal ini diperkuat dengan data tahun 2016 menunjukkan bahwa lebih dari 51% mahasiswa Bidikmisi memperoleh IPK antara 3,0-3,5, dan lebih dari 31% memperoleh IPK > 3.5, serta 0.6 % mempunyai IPK 4,0. Ini adalah suatu prestasi yang amat membanggakan.

Tidak hanya itu, prestasi non akademik mahasiswa Bidikmisi juga amat membanggakan; tercatat  lebih  dari  5  mahasiswa  Bidikmisi  berhasil  lolos  seleksi  menjadi Finalis Mahasiswa  Berprestasi  tingkat  nasional  sejak  tahun  2013-2016.  Selain  itu,  beberapamahasiswa Bidikmisi juga berhasil meraih medali di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS),  menjuarai  berbagai  kompetisi  kepenulisan  tingkat  nasional hingga internasional,  mengikuti  kegiatan  pertukaran  pelajar  rtingkat  internasional,  hingga menjadi delegasi Indonesia dalam berbagai kegiatan kelas dunia di dalam dan luarnegeri.

Hingga pertengahan tahun 2016, lebih dari 200 alumni Bidikmisi berhasil mendapatkan kesempatan  untuk  melanjutkan  pendidikan  kejenjang  S2  dengan  dukungan  penuh beasiswa  dari  Lembaga  Pengelola  Dana  Pendidikan  (LPDP),  Kementerian  Keuangan Republik  Indonesia.  Sebagian  besar  melanjutkan  studi  di  kampus-kampus  terbaik  di Indonesia,  dan  sebagian  lainnya  berkesempatan  berkuliah  di  luar  negeri  di kampus-kampus terbaik dunia seperti di Inggris, Belanda, Australia, Amerika dan lain-lain.Beberapa  capaian  di  atas  membuktikan  bahwa  Bidikmisi  telah  berhasil  menjadi  salahsatu katalis yang strategis dan telah banyak membantu mahasiswa Indonesia untuk secara bebas  mengeksplorasi  diri. Selain  itu,  karena  para  mahasiswa  Bidikmisi  adalah  para mahasiswa  yang  berasal  dari  seluruh  pelosok  Indonesia,  program  ini  telah  turut berkontribusi  terhadap  peningkatan  kohesi  sosial  dan  pemahaman  tentang  keragaman Bangsa Indonesia. Suatu hal yang baik sekali, karena pada waktunya mereka lulus, para mahasiswa ini akan mempunyai persahabatan dan jejaring dari seluruh Indonesia.

Lihat Selengkapnya
Kamis, 24 Agustus 2017, 11:12 WIB

Masa Ta'aruf (MA'RUF) 2017 Mahasiswa Santri STIKES Surya Global

Kampus Timur STIKES Surya Global tampak ramai dan meriah, ada panggung dan berbagai stand-stand yang menampilkan berbagai foto-foto kegiatan dan produk-produk yang digelar oleh mahasiswa. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Panitia Bersama Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa Jurusan dan berbagai Unit-unit Kegiatan Mahasiswa di lingkungan STIKES Surya Global menyelenggarakan MA'RUF (Masa Ta'aruf) 2017 yang bertema "Membentuk Mahasiswa Santri Menjadi Generasi Robbani di Era Digital dan Teknologi". Berbagai atraksi ditampilkan seperti dari Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HIMIKA), Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (PMKM), Jama'ah Al Kahfi (JAKHFI), Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI), Resimen Mahasiswa (MENWA), Perguruan Setia Hati Terate (PSHT), Paduan Suara Mahasiswa (PSM), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala)SURGAYAPALA, Lembaga Pers Mahasiswa GLOBAL Media, Koperasi Mahasiswa (KOPMA), PIK SAGOPERA, Komunitas Pecinta Lingkungan Hijau (KPLH)Selain menampilkan atraksi-atraksi sebagai pengenalan lembaganya kepada para mahasiswa baru STIKES Surya Global 2017/2018, juga menampilan stand-stand yang berada di lapangan parkir Kampus Timur STIKES Surya Global. Di stand-stand inilah para mahasiswa baru bisa mendaftarakan diri ke lembaga-lembaga yang diminatinya sebagai calon anggota baru.

Lihat Selengkapnya
Minggu, 16 Juli 2017, 10:46 WIB

Masjid Bantuan dari Kuwait Diresmikan

Setelah dilaksanakan pembangunan selama 11 bulan, Masjid yang merupakan bantuan Baituz Zakat dari negara Kuwait di kompleks Graha Santri Pondok Pesantren STIKES Surya Global telah selesai dibangun. Peletakan batu pertama yang menandakan dimulainya pembangunan masjid yang diberi nama Masjid Ali Fahd Abdurrahman Al Zayyid ini dilaksanakan pada hari Jum'at 2 Agustus 2016 dan Alhamdulillah selesai pada hari Jum'at 14 Juli 2017. Pada acara peresmian Masjid yang dihadiri juga bapak Camat Banguntapan, ibu Lurah Desa Wirokerten, perwakilan dari Yayasan Islah Bina Umat, para anggota Majelis STIKES Surya Global, serta santri mahasiswa STIKES Surya Global.Bapak Sugiono Al Munawary selaku Pimpinan Pesantren Mahasiswa STIKES Surya Global secara khusus menyampaikan ucapan terimakasih kepada Direktur Yayasan Islah Bina Umat yang telah memberikan kepercayaan kepada STIKES Surya Global dalam menyalurkan donatur dari Baituz Zakat Kuwait. Harapannya dengan dibangunnya masjid ini masyarakat khususnya jama'ah juga mendapatkan keberkahan, keutamaan dari memakmurkan masjid sebagai rumah Allah. Keluarga yang telah mewakafkan juga menjadi amal jariyah. Dan juga para jamaah yang memakmurkan masjid mudah-mudahan Allah meridhoi dan menjadi asbab dikumpulkannya ke dalam surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta'ala.  Ibu Lurah Desa Wirokerten Ibu Hj. Rakhmawati Wijayaningrum, SE dalam sambutannya menyampaikan atas nama pemerintah Desa Wirokerten mengapresiasi STIKES Surya Global yang telah berupaya semaksimal mungkin melaksanakan program pemerintah khususnya pemerintah Desa Wirokerten yaitu dalam rangka meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Di samping mendapatkan ilmu pengetahuan secara umum Alhamdulillah dengan adanya STIKES Surya Global di wilayah pedukuhan Mutihan Desa Wirokerten Kecamatan Banguntapan ditambah dengan keberadaan masjid yang sangat megah ini masyarakat di wilayah sekitar juga bisa menikmati, bisa turut menimba ilmu agama yang bisa meningkatkan ketakwaan masyarakat dengan bekerjasama dengan STIKES Surya Global. Bu Lurah juga menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya telah dibantu dalam program pemberdayaan masyarakat desa. Pemerintah Desa juga turut berbahagia atas selesainya pembangunan masjid dan pondok pesantren semoga bisa memberi manfaat bagi masyarakat secara umum.Camat Banguntapan bapak Drs. Fatoni dalam sambutan berikutnya menyampaikan jajaran pemerintah Kecamatan Banguntapan merasakan dampak positif keberadaan kampus STIKES Surya Global. Khususnya dampak ekonomi berupa kost-kostan dan penjual makanan yang mudah-mudahan menjadi berkah bagi masyarakat Banguntapan. Kemudian tidak kalah pentingnya Masjid ini juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai tempat pengembangan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Pak Camat menyampaikan bahwa di kecamatan Banguntapan ini terdapat sekitar 4000 keluarga miskin yang harus segera dientaskan, dimana akan dikonsolidasikan dengan pihak-pihak akademisi seperti di STIKES Surya Global.Acara selanjutnya adalah pengguntingan pita, pemberian kunci dan kitab suci Al qur'an sebagai tanda simbolis diresmikannya Masjid Ali Fahd Abdurrahman Al Zayyid oleh bapak Camat yang disaksikan oleh pihak Yayasan Islah Bina Umat, Pemerintah Desa Wirokerten, Ketua STIKES Surya Global, Pimpinan Pondok Pesantren STIKES Surya Global, Anggota Majelis dan santri dan mahasiswa STIKES Surya Global. Semoga keberadaan Masjid ini menjadi keberkahan dan diridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Aamiiin Ya Rabbal 'alamiiin..

Lihat Selengkapnya
Senin, 10 Juli 2017, 9:15 WIB

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal (Pimpinan Pondok Modern Gontor) Kepada para Orang Tua yang Anaknya Akan Masuk Pesantren

Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal (pimpinan Pondok Modern Gontor) saat pembekalan untuk calon Orang Tua Santri:


"Kalo mau punya anak bermental kuat, orang tua-nya harus lebih kuat, punya anak itu jangan hanya sekedar sholeh tapi juga bermanfaat untuk umat, orang tua harus berjuang lebih.. ikhlas... ikhlas... ikhlas...

Anak-anakmu di pondok pesantren gak akan mati karena kelaparan, gak akan bodoh karena gak ikut les ini dan itu, gak akan terbelakang karena gak pegang "hape/gadget".

Insyaa ALLAH, anakmu akan dijaga langsung oleh ALLAH karena sebagaimana janji ALLAH yang akan menjaga Alqur'an.. yakin.. yakin.. harus yakin..

Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu, karena menuntut ilmu agama dari pada kamu nanti...

"Yen wes tuwo nangis amargo anak-anakmu lalai urusan akhirat.. kakean mikir dunyo, rebutan bondo, pamer rupo.. lali surgo.." (kalau sudah tua menangis karena anak-anak kamu lalai terhadap urusan akhirat... kebanyakan memikirkan urusan dunia, berebut harta, pamer rupa wajah... lupa surga).Gontor, 16 Juli 2016

Lihat Selengkapnya
Selasa, 06 Juni 2017, 8:02 WIB

SIMULASI BENCANA GEMPA BUMI PRODI NERS STIKES SURYA GLOBAL DI DUSUN SUREN KANOMAN, PLERET, BANTUL

Pada hari Ahad 4 Juni 2017 oleh kelompok IV Program Profesi Ners STIKES Surya Global Angkatan XVIII mengadakan Simulasi Bencana Gempa  yang melibatkan 50 orang masyarakat setempat, Kegiatan ini mendapat antusias dari masyarakat. Program kerja ini merupakan program kerja utama pada kegiatan stase komunitas kelompok IV Profesi Ners STIKES Surya Global sebagai program kerja besar.


Simulasi Bencana Gempa yang diadakan bertujuan supaya masyarakat daerah sekitar, khususnya dusun Suren, Kanoman siap secara materi dan skill jika sewaktu-waktu terjadi gempa. Dalam acara ini masyarakat tidak hanya diajarkan cara berlindung di saat gempa, tapi juga diajarkan tentang apa yang harus dilakukan jika terjadi bencana  dan bagaimana cara evakuasi dan memberikan Pertolongan Pertama (PP) jika ada korban di sekitarnya.  Dalam acara ini materi simulasi bencana dan Pertolongan Pertama di sampaikan oleh mas Nur Ahmad atau yang sering di sapa mas Bolang dari KSR PMI Kota Yogyakarta, yang juga bekerja sebagai staff di BPBD Provinsi DIY.


Selain itu tujuan dari diadakannya acara ini agar masyarakat mengetahui tentang sepak terjang STIKES Surya Global sebagai kampus yang tidak hanya mengembangkan sayapnya di dunia kesehatan tapi juga pada kemanusiaan.


Dalam kesempatan ini Kepala Dukuh Pungkuran Pleret mengatakan bahwa pada tahun 2006 wilayah Suren. Kanoman yang tergabung dalam pedukuhan Pungkuran termasuk salah satu pedukuhan yang terkena dampak dari kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa bumi. Dari sekian banyak rumah di dusun Suren dan Kanoman hanya 3 bangunan yang berdiri. Serta adanya korban jiwa yang meninggal.


Acara Simulasi Bencana Gempa yang dilaksanakan dari jam 09.00 pagi ini juga di hadiri oleh Babin Kamtibnas dari Polsek Pleret, Kepala Dukuh Pungkuran, Ketua RT 1 dan 2 Kanoman dan ketua RT 4 Suren. Serta dari delegasi Puskesmas dan Kampus STIKES Surya Global selaku pembimbing Stase Komunitas kelompok IV Profesi Ners STIKES Surya Global. Dalam kesempatan ini Nur Ahmad selaku pemateri berharap adanya tindak lanjut ke depannya yang dapat melibatkan dan bekerjasama dengan pihak BPBD Kabupaten Bantul untuk mengelola dusun Suren dan Kanoman sebagai Dusun Tanggap Bencana.


"Dengan adanya antusias dari seluruh kalangan baik masyarakat dan pihak-pihak terkait, kami mengapresiasi dan berharap ke depannya ilmu yang didapatkan dapat berguna, bermanfaat serta berkelanjutan bagi masyarakat sekitar" kata Nyoman Hariadi selaku ketua panitia.(Syabib/2017)

Lihat Selengkapnya
Kamis, 01 Juni 2017, 5:24 WIB

Ahlan Wa Sahlan Ya Ramadhan Oleh Dr. Ahzami Sami’un Jazuli, MA

 


وَإِنَّهُ لَذِكْرٌ لَكَ وَلِقَوْمِكَ وَسَوْفَ تُسْأَلُونَ


“Dan sesungguhnya al-Qur'an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertanggungan jawab” (QS Az-Zukhruf: 44).


 Ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan Islam sebagai rahmat buat alam semesta; ketika Allah Swt. menghendaki dari umat Islam menjadi umat terbaik; ketika Allah Swt. menghendaki agar umat Islam mampu memikul amanah untuk memimpin dunia ini; ketika Allah menghendaki agar umat Islam menjadi saksi bagi seluruh umat manusia, maka ketika itulah Allah Swt. mempersiapkan umat Islam sedemikian rupa, agar umat Islam ini layak menjadi umat yang terbaik. Di antara sarananya adalah dengan pembentukan manusia yang bertaqwa. Pembentukan manusia yang bertaqwa inilah yang banyak dilupakan manusia, sehingga ukuran kemajuan atau ukuran kesejahteraan hidup diukur dengan paradigma materi. Lupa bahwa manusia itu bukan hanya dari unsur materi saja, tetapi manusia punya nurani yang harus diperhatikan, yang harus dibina sehingga pantas untuk menjadi manusia yang terbaik. Oleh karena itu Ramadhan hadir di tengah-tengah kita dalam rangka untuk menjadikan umat Islam sebagai umat terbaik yang layak memimpin dunia ini.


Di dalam bulan Ramadhan banyak sekali kebajikan ilahi yang harus kita dapatkan, sehingga kita keluar dari bulan Ramadhan ini benar-benar menjadi manusia terbaik, manusia yang berkualitas, manusia yang berprestasi. Oleh karena itu marilah kita berupaya benar-beanr memahami puasa itu sebagaimana yang diharapkan Allah Swt.


Pertama, puasa membentuk manusia yang mengoptimalkan kontrol diri (self control). Mengapa? Karena puasa sangat terkait dengan keimanan seseorang. Seseorang bisa saja mengatakan dirinya sedang berpuasa, sekalipun sebenarnya tidak. Oleh karena itu puasa disebut ‘ibaadah sirriyyah (ibadah yang bersifat rahasia). Rahasia antara seorang hamba dengan Al-Kholiq. Sampai-sampai Allah Swt. mengatakan dalam sebuah hadits Qudsi yang sering kita dengar “Kulluu ‘amali ibnu aadama lahu illash-shiyaam. Fa innahu lii wa ana ajzii bihi (setiap amal manusia untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk aku. Dan akulah yang membalasnya)”. Pertanyaannya adalah apakah amal selain puasa tidak dibalas Allah? Dibalas. Tetapi kenapa dalam masalah puasa Allah menegaskan bahwa Dia yang akan membalasnya sehingga seolah-olah amal yang lain itu bukan Allah yang membalasnya? Ini merupakan isyarat Rabbaniyah bahwa amal manusia yang bernama ash-shiyam benar-benar insya Allah akan dijamin diterima oleh Allah Swt. Apakah yang lain tidak dijamin? Ini karena puasa itu adalah ibadah sirriiyyah, dimana orang tidak mengetahui dan tidak melihat ketika dia berpuasa. karean ketika kita berpuasa, tidak ada orang lain yang tahu. Maka ibadah yang sirriyyah itu adaah sangat dekat dengan keikhlasan. Dan syarat agar suatu amal itu diterima oleh Allah, selain harus benar sesuai dengan ajaaran Rasulullah Saw., harus ikhlas. Makanya kalau ingin menjadi orang yang populer, tidak bisa melewati pintu puasa. Kalau terkenal sebagai seorang mubaligh, bisa. Terkenal menjadi qori’ dan qori’ah, bisa. Terkenal menjadi politikus, bisa. Dan itu semuanya sangat rawan dengan riya’, dan riya’ itu menjadikan amal tidak diterima oleh Allah Swt. Itulah  sebabnya mengapa dalam kaitannya dengan puasa ini Allah menegaskan bahwa Dia sendiri yang akan membalasnya. Inilah yang dikatakan bahwa puasa akan melatih kita untuk mempunyai tingkat kontrol yang tinggi, baik ketika kita menjadi seorang pemimpin, atau karyawan, ulama’ atau yang lainnya. Kita tidak merasa dikontrol oleh yang lainnya, akan tetapi yang terpentinga dalah bahwa kita sadar bahwa kita dikontrol oleh Allah Swt.


Yang kedua, lembaga shiyam ini mendorong kita agar kita agar obsesi kita tentang kehidupan akherat itu lebih dominan daripada obsesi dunia. Jadi obsesi ukhrowi kita, agar kita menjadi hamba Allah yang akan mendapatkan kenikmatan abadi, itu harus lebih dominan daripada kesenangan yang sifatnya sementara. Karena seluruh kenikmatan yang ada di dunia ini, nikmat apa pun namanya, harta, pangkat, dan sebagainya itu semuanya bersifat sementara. Makanya dalam bahasa Al-Qur’an kenikmatan dunia itu tidak disebut nikmat, akan tetapi disebut mata’. Mata’ itu arti adalah maa yatamatta’u bihil insan tsumma yazulu qoliilan-qoliilan (mata’ adalah sesuatu yang disukai oleh manusia, akan tetapi sedikit demi sedikit akan hilang)”. Kalau kita ditakdirkan Allah mempunyai istri yang sangat cantik, ketika sudah berusai 60 tahun, maka kecantikannya pasti akan luntur, sehingga mungkin kita berpikir mencari yang masih muda lagi. Kenapa? karena kenikmatan dunia itu pasti ada batasnya. Ini adalah halyang manusiawi. Puasa itu melatih kita agar obsesi yang ada dalam diri kita itu obsesi yang tentang kehidupan yang abadi di akhirat. Makanya makanan, minuman, istri, dan semua yang halal itu kita gapai dalam rangka untuk mendapatkan kenikmatan yang abadi.


Di negara kita yang sedang terkena krisis multi dimensional ini dan dipenuhi dengan kerusuhan, disebabkan karena banyak manusia di negara ini ytang obsesinya bukan obsesi ukhrowi. Ada orang yang ingin menjatuhkan orang lain, ada orang yang khawatir kalau-kalau dijatuhkan. Kalau obsesi duniawi ini dominan, bisa-bisa kita akan kehilangan kehidupan ukhrowi kita. Ketika kita memasuki bilan Ramadhan, maka kita akan ditarbiyah oleh Allah agar obsesi kit aadalah obsesi ukhrowi. Namun ini bukan berarti kehidupan duniawi dilarang. Akan tetapi duniawi itu bukan yang dominan dalam kehidupan kita. Makanya kita diajarkan untuk berdo’a “Walaa taj’al mushiibatana fii diinina, walaa taj’aliddun-yaa akbaro hammina (jangan jadikan dunia sebagai obsesi terbesar dalam kehidupan kami), walaa mablagho ‘ilmina, walaa ilannaari mashiirona. Do’a ini sering dibaca, akan tetapi dalam perbuatannya warnanya lain.


Yang ketiga, dari lembaga shiyam ini akan melahirkan manusia-manusia yang benar-benanr mempunyai al-hasasiyyah al-ijtima’iyyah (mempunyai kepekaan sosial yang tinggi). Dari mana bisa kita ketahui? Ketika kita berpuasa sunnah, baik Senin-Kamis atau puasa ayyamul bidh, kita merasakan berpuasa sendirian. Dibandingkan dengan puasa di bulan Ramadhan, puasa sunnah ini perasaan kita lebih berat, karena dilaksanakan sendirian. Ini yang harus kita perhatikan, sekarang ini bangsa kita (sebagian besar) sudah kehilangan kepekaan sosial. Kalau ada tindak kejahatan di tempat keramaian, sangat langka kita temukan orang yang peduli dengan membantu melawan penjahat. Kalau ada wanita yang sangat cantik lewat dan hampir semua mata melihat, apakah ada orang yang memprotes hal itu? Padahal, bukankah wanita itu isterinya orang yang haram untuk dipelototi? Bahkan perbuatan seperti ini kadangkala diberikan pembenaran dengan dalih ‘mubadzir’ kalau tidak dilihat. Ini menunjukkan rendahnya sensitifitas keimanan (hasasiyah imaniyah). Yang ada adalah kerawanan dalam kehidupan sosial, karena kemaksiatan sudah melembaga dan orang diam saja ketika melihatnya. Padahal di masa Rasulullah SAW, orang tidak akan tinggal diam ketika melihta suatu kemungkaran. Bahkan ketika jauh setelah kehidupan Rasulullah, baik di jaman tabi’in maupun tabi’it tabi’in, tetapi mereka masih komitmen dengan ajaran Allah, maka sensitifitas sosial itu sangat tinggi. Misalnya, di jaman dahulu kalau kita shalat jama’ah di masjid, kemudian kita melihat ada tetangga atau saudara kita tidak datang, maka setelah selesai shalat, semua jama’ah langsung mendatangi orang yang tidak shalat berjama’ah tadi untuk menziarahinya, seolah-olah orang yang tidak shalat jama’ah itu adalh orang yang mati sehingga perlu dita’ziyahi. Kalau seandainya kita tidak shalat jama’ah dan kemudia kita dita’ziyahi, maka kita akan termotivasi untuk selalu shalat jama’ah. Dan shalat jama’ah adalah ibadah yang sangat terkait dengan sensitifitas sosial. Ironisnya di negara ini ketika ada orang diganggu, dicopet, atau digoda, yang lainnya diam saja, dan bisikan yang ada dalam dirinya adalah ‘yang penting saya selamat’. Orang seperti ini adalah orang yang mati dalam kehidupannya, karena bahasa masing-masing itu bahasa akhirat, bahasa ketika kiamat tiba, sehingga orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Suami lari dari istri dan anaknya, anak lari dari orang tuanya. Allah berfirman:


 فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ ٣٣ يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ ٣٤  وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ ٣٥  وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ ٣٦ لِكُلِّ ٱمۡرِيٕٖ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٖ شَأۡنٞ يُغۡنِيهِ ٣٧


 “Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya” (QS ‘Abasa: 33-37).


 


Jadi kehidupan masing-masing itu adalah kehidupan akherat. Akan tetapi sekarang ini sudah ada di dunia., Berarti seolah-olah sebagian masyarakat sudah merindukan kematian, padahal masih hidup. Makanya banyak kebajikan yang tidak jalan, keadilan tidak tegak. Dalam kondisi demikian, puasa hadir di tengah-tengah kita untuk memperlihatkan bagaimana Islam itu benar-benar mempunyai kepedulian terhadap kehiduapan bermasyarakat.


Pada masa Rasulullah Saw., ada juga kemaksiatan. Ada juga shahabat yang berbuat maksiat, karena mereka bukan malaikat. Sekalipunsebaik-baik generasi adalah genarasi Rasulullah Saw., akan tetapi ada saja yang berbuat maksiat. Ada yang pernah mencuri, ada yang pernah berbuat zina dan yang lainnya. Akan tetapi kriminalitas itu masih sangat kecil sekali, sehingga jarang ditemui. Itu pun bersifat pribadi dan dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Ironisnya, sekarang maksiat itu dilakukan ramai-ramai dan secara terang-terangan tanpa malu-malu. Sehingga yang benar itu tertutup, keamanan tidak nampak. Yang nampak adalah sesuatu yang menakutkan. Bahkan kadang-kadang sampai di tempat yang suci seperti masjid, kadang-kadang orang tidak bisa khusyu’ shalatnya karena takut sepatu atau sandalnya hilang. Kalau di masjid saja orang masih tidak khusyu’ beribadah karena khawatir menjadi korban kejahatan, bagaimana di tempat yang lain? Ini semua karena bayak orang yang telah kehilangan kepedulian sosialnya. Inilah bedanya antara jaman kita dengan jaman Rasulullah Saw. Bahkan di masa Rasulullah Saw., ketika ada seorang berbuat zina dan kemudian dia hamil, dia sendiri kemudian bertaubat dan malah dia sendirilah yang melakukan perbuatannya itu kepada Rasulullah Saw., karena ketika dia berzina, itu terjadi karena kelemahamn iamnnya. Dalam hadits dijelaskan “Laa yadri azzani ila yazni wahuwa mu’min (tidaklah seseorang berani berbuat zina ketika zina, sementara dia dalam keadaan beriman)”. Ketika seorang perempuan tadi berzina, dan setelah itu ia sadar bahwa ia telah berbuat dosa, langsung dia datang kepada Rasulullah Saw. minta agar dia dihukum sesuai dengan ajaran Islam. mari kita merenung. Memang benar bahwa pada masa Raulullah pun ada orang yang berbuat salah. Akan tetapi ketika ada diantara mereka yang berbuat salah, dia langsung mengaku dan minta dihukum, padahal oranmg lain tidak tahu. Sekarang bagaimana kondisinya? Jadi kalau kita bersalah, hendaklah kita datang untuk minta dihukum. Kenapa? Karena seorang mukmin yang benar-benar beriman, benar-benar yakin bahwa siksa akhirat itu lebih pedih. Dengan demikian, benar-benar akan efisien tenaga itu. Kalau seandainya semua orang sama dengan wanita yang bertaubat ini, maka aparat hukum tidak perlu capai-capai.


Ash-shiyam secara bahasa artinya adalah al-habsu (menahan diri), menahan diri dari seluruh bentuk kemaksiatan. Kalau setiap kita menahan diri, jangankan terhadap yang haram, yang mubah saja akan kita tinggalkan. Makanan, minuman, istri itu kan boleh. Akan tetapi di bulan Ramadhan pada siang harinya semua bisa kita tahan. Kalau yang halal saja bisa kita tahan, apalagi yang haram? Oleh karena itu jangan dalam berpuasa malah terbalik, yaitu yang mubah ditinggalkan tetapi yang haram dilakukan. Makanan, minuman ditinggalkan, ghibah dilakukan, korupsi jalan terus, dengan alasan untuk persiapan lebaran.


Inilah kepekaan-kepekaan ruhani yang benar-beanr mengalir dalam setiap diri kita ketika kita berpuasa sebagaimana yang dikehendaki Allah Swt. Dan jangan sampai ada di antara kita yang menganggap bahwa puasa itu berat. Bahkan Rasulullah Saw. dan para shahabat serta para tabi’in, banyak yang menggunakan Ramadhan untuk berjihad di jalan Allah Swt. Perang Badar, Perang Fathu Makkah, Perang ‘Iinu Jaalut yang terjadi pada abad ke-7 Hijriyah, dimana tentara-tentara Islam di bawah pimpinan mamaalik (jama’ dari mamluk) bisa mengalahkan tentara-tentara salib, terjadi di bulan Ramadhan. Saking hebatnya kemenangan yang dicapai umat Islam pada bulan Ramadhan, Allah Swt. mengabadikannya dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang terdapat pada QS Al-Anfal, dimana perang Badar dikatakan sebagai yaumal furqoon, sebagaimana yang terdapat pada firmanNya:


 


۞وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا غَنِمۡتُم مِّن شَيۡءٖ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُۥ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ إِن كُنتُمۡ ءَامَنتُم بِٱللَّهِ وَمَآ أَنزَلۡنَا عَلَىٰ عَبۡدِنَا يَوۡمَ ٱلۡفُرۡقَانِ يَوۡمَ ٱلۡتَقَى ٱلۡجَمۡعَانِۗ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ٤١


 “Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan Ibnu sabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) dihari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Penguasa segala sesuatu” (QS Al-Anfal: 41).


 


Pasukan kebenaran yang jumlahnya sedikit, tetapi dimenangkan oleh Allah Swt. dalam melawan kekuatan bathil yang mempunyai kekuatan besar dan jumlah tentara yang sangat banyak. Oleh karena itu Ramadhan yang akan kita lalui ini semoga mengantarkan kita pada kemenenagan, kemenangan melawan hawa nafsu, kemenangan bangsa ini dalam melawan krisis, kemenangan umat Islam dalam melawan perselisihan, percekcokan antara sesama umat Islam, kemenangan bangsa ini dalam menghadapi konspirasi dunia internasional yang dimotori oleh Yahudi, yang mereka tidak senang melihat Indonesia maju karena negara ini adalah negara Islam. oleh karena itu marilah kita jadikan Ramadhan ini kita jadikan momentum Islam untuk kembali kepada Allah sehingga mencapai kemenangan yang hakiki. Wallahu a’lam bishshawab.

Lihat Selengkapnya