Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- PENDAFTARAN MAHASISWA BARU STIKES SURYA GLOBAL 2019 2020 telah DIBUKA -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺

Berita

Sabtu, 17 September 2016, 9:42 WIB

REUNI AKBAR IKATAN ALUMNI KEPERAWATAN DAN SEMINAR KEPERAWATAN STIKES SURYA GLOBAL

REUNI AKBAR IKATAN ALUMNI KEPERAWATAN DAN SEMINAR KEPERAWATAN STIKES SURYA GLOBAL



Saat ini begitu banyak sarana atau fasilitas untuk membentuk suatu komunitas. Mulai dari komunitas sederhana, komunitas maya yang dibentuk dengan fasilitas internet. Komunitas dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh sarana yang baik dan hubungan antarpribadi terjalin dengan baik pula.

Dengan melihat begitu pentingnya suatu hubungan dalam membentuk komunitas, maka akan lebih mudah bila membuat suatu komunitas dengan latar belakang pendidikan dan almamater menjadi sarananya. Salah satu cara untuk membentuk suatu komunitas  atau yang lebih dikenal dengan Keluarga Alumni Jurusan adalah dengan reuni. Dengan reuni dapat mengumpulkan kembali civitas akademika yang masih atau telah tidak berada di lingkungan pendidikan tersebut dalam hal ini adalah Program Studi Ilmu Keperawatan. Sehingga dapat terjalin lagi suatu hubungan yang dapat menumbuhkan perasaan integritas di antara peserta reuni.

Dalam hal lain dengan adanya komunitas Alumni, dapat menjadi sarana atau wadah yang memberikan banyak nilai positif baik bagi alumni maupun institusi pendidikan. Melalui kegiatan ini, kami sangat mengharapkan adanya kerjasama yang baik dengan elemen baik institusi, alumni maupun sponsor atau donatur yang mendukung dalam keberhasilan kegitan itu sendiri. Selain itu juga besar harapan kami akan terjalinnya tali persaudaraan antar Alumni, mahasiswa dan pihak universitas, dan juga dengan masyarakat luar, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. 

Berdasarkan penjelasan di atas maka panitia Alumni Prodi Ilmu Keperawatan Angkatan 2003 - 2012 berencana mengadakan seminar dan reuni dengan tema besar yaitu “Kenangan di Kampus Hijau”.



Lihat Selengkapnya
Rabu, 07 September 2016, 9:41 WIB

Tim KSR PMI Unit XI STIKES Surya Global Berhasil Menggapai Puncak Gunung Merbabu (3142 mdpl)

Pada hari Sabtu 3 November 2016 Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit XI STIKES Surya Global mengawali kegiatannya pada awal semester ini dengan pendakian ke gunung Merbabu (3142 mdpl) melalui jalur Selo Boyolali. Pendakian ini diikuti 15 orang, selain dari KSR PMI Unit XI yang diketuai Akhyar Ramadhan (KP) juga dibersamai oleh Ketua Unit I KSR PMI, serta perwakilan BEM STIKES Surya Global. Turut serta pula bapak Herbakti Nurcahya, S.Sos selaku Pembina KSR PMI Unit XI STIKES Surya Global.


Suasana Camping Ground di Sabana 1 gunung Merbabu




Dari Sabana 1 ini kita bisa melihat dengan jelas gunung Merapi yang terletak di selatan gunung Merbabu


Perjalanan menuju Sabana II




Pemandangan diatas Sabana 1

Menuju Sabana 2


Di Watu Lumpang


Di puncak Kenteng Songo gunung Merbabu (3142 mdpl)




Perjalan turun dari Puncak Gunung Merbabu menuju Sabana 2




Turun menuju Sabana 1

Foto bareng sebelum berangkat perjalanan turun dari Sabana 1 ke Basecamp Selo
Lihat Selengkapnya
Jumat, 26 Agustus 2016, 9:12 WIB

Kegiatan POROS (Post Of Reborn On Mission) Mahasiswa Santri STIKES Surya Global

Kegiatan POROS (Post Of Reborn On Mission) Mahasiswa Santri STIKES Surya Global

Dalam rangka pengenalan kegiatan perkuliahan dan kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa beserta Unit-Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di lingkungan kampus STIKES Surya Global pada para Mahasiswa Santri Baru angkatan 2016/2017. Kegiatan yang berlangsung dari selama sepekan dari tanggal 22- 27 Agustus 2016. Diawali dengan perkenalan dan permainan oleh BEM, DPM, HIMIKA, PMKM, HIMAFA beserta UKM-UKM STIKES Surya Global yang berlangsung hari Senin dan Selasa di Pangkalan TNI Aangkatan Udara Adisucipto yang dilanjutkan kunjungan di Museum Dirgantara TNI AU.










Dengan kegiatan ini memberi kesempatan kepada para mahasiswa santri baru bahwa kegiatan di kampus tidak hanya kegiatan perkuliahan saja tapi mahasiswa bisa turut aktif di kegiatan mahasiswa sesuai minat dan pilihannya, tentunya diharapkan kegiatan ini bisa menyalurkan minat dan bakat para mahasiswa.


Kegiatan Kemahasiswaan di lingkungan STIKES Surya Global diantaranya:

  1. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM)
  2. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
  3. Himpunan Mahasiswa Ilmu Keperawatan (HIMIKA)
  4. Persatuan Mahasiswa Kesehatan Masyarakat (PMKM)
  5. Himpunan Mahasiswa Farmasi (HIMAFA)
  6. Lembaga Dakwah Kampus Jama'ah Al Kahfi (LDK JAKFI)
  7. Korps Suka Rela Palang Merah Indonesia (KSR PMI)
  8. Koperasi Mahasiswa (KOPMA)
  9. Resimen Mahasiswa (MENWA)
  10. Paduan Suara Mahasiswa (PSM)
  11. Pusat Informasi Kesehatan dan Konseling Mahasiswa (PIK-M)
  12. Kita Peduli Lingkungan Hijau (KPLH)
  13. Surya Global Pecinta Alam (SURGAPALA)
  14. Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT)
  15. Karate
  16. Global Media
  17. Mahasiswa Hindu Dharma (MAHIMA)

 


 







Lihat Selengkapnya
Selasa, 16 Agustus 2016, 9:41 WIB

Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Oleh: Dr. Adian Husaini


PEMBUKAAN UUD 1945 menegaskan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”.  Rumusan itu sungguh indah, sesuai dengan rumusan aqidah ahlus sunnah, memadukan aspek rahmat Allah dan usaha manusia. Bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dan kita mengakui, bahwa Allah Subhanahu Wata’ala adalah yang menganugerahi kemerdekaan. Pengakuan itu kita letakkan dalam Pembukaan Konstitusi, dan biasanya dibaca setiap upacara bendera.


Dengan pemahaman seperti itu, sepatutnya bangsa Indonesia, dan kaum Muslim khususnya, tidak boleh merasa angkuh, bahwa kemerdekaan itu diraih semata-mata karena usaha perjuangan rakyat Indonesia. Tapi, kemerdekaan adalah anugerah Allah, sehingga kemerdekaan kita pahami sebagai nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri. Syukur, maknanya menggunakan nikmat itu sesuai dengan Yang Memberi Nikmat, bukan menurut hawa nafsu kita. Semoga kita dan para pemimpin kita sadar akan makna penting dari kemerdekaan.

Rumusan penting itu memang  dihasilkan dari goresan tinta ulama dan cendekiawan Muslim yang berunding dalam Panitia Sembilan dalam BPUPKI tahun 1945 yang menghasilkan dokumen sejarah penting, yaitu Piagam Jakarta.  Syukurlah, rumusan “Atas berkat rahmat Allah… “ itu tidak dituntut untuk dicoret sebagaimana rumusan tujuh kata “(Ketuhanan)… dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Seperti kita pahami, “tujuh kata” itu kemudian dicoret dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945. Bung Hatta mengaku, ia mendapat telepon dari seorang perwira Jepang yang mengaku menyampaikan aspirasi kaum Kristen Indonesia Timur. Bahwa, mereka tidak mau bergabung dengan NKRI jika “tujuh kata” itu tidak dihapus. Hingga kini, peristiwa seputar pencoretan “tujuh kata” itu masih misterius, sebab sampai meninggalnya, Bung Hatta tidak membuka siapa sebenarnya perwira Jepang yang meneleponnya tersebut.

Tapi, bagaimana pun, peristiwa itu telah menjadi sejarah. Kita ambil hikmahnya.  Bagi umat Islam, tanggal 17 Agustus 1945, adalah hari yang patut disyukuri sebagai rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, dan tanggal 18 Agustus 1945 adalah hari yang jangan dilupakan. Itulah hari dimana para tokoh Islam menerima tuntutan kaum Kristen Indonesia Timur, demi  terpeliharanya kemerdekaan dan juga demi persatuan dan kesatuan NKRI.

Kita perlu mengingat kembali, bahwa setelah Puagam Jakarta ditetapkan, masih ada sebagian anggota BPUPKI yang menggugatnya. Akhirnya, Bung Karno sendiri menegaskan: “Saya ulangi lagi bahwa ini satu kompromis untuk menyudahi kesulitan antara kita bersama. Kompromis itu pun terdapat sesudah keringat kita menetes. Tuan-tuan, saya kira sudah ternyata bahwa kalimat “dengan didasarkan kepada ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sudah diterima Panitia ini.”

Piagam Jakarta adalah naskah pembukaan (preambule) Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang disiapkan untuk konstitusi Negara Indonesia merdeka. Ketika naskah pembukaan itu sudah disepakati, maka naskah-naskah rincian pasal-pasal dalam UUD 1945 masih menjadi masalah yang diperdebatkan.


Dalam , KH Wahid Hasyim mengusulkan, agar Presiden adalah orang Indonesia asli dan “yang beragama Islam”. Begitu juga draft pasal 29 diubah dengan ungkapan: “Agama Negara ialah agama Islam”, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain, untuk dan sebagainya. Kata Kyai Wahid Hasyim: “Hal ini erat perhubungan dengan pembelaan. Pada umumnya pembelaan yang berdasarkan atas kepercayaan sangat hebat, karena menurut ajaran agama, nyawa hanya boleh diserahkan buat ideologi agama.”


Usul KH Wahid Hasyim disokong oleh Soekiman. Tapi, Haji Agus Salim mengingatkan, bahwa usul itu berarti mementahkan kembali kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya antara golongan Islam dan golongan kebangsaan. Usulan Wahid Hasyim akhirnya ditolak. Tapi, pada sidang tanggal 14 Juli 1945, Ki Bagus Hadikoesoemo, tokoh Muhammadiyah kembali mengangkat usul Kyai Sanusi yang meminta agar frase “bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta dihapuskan saja. Jadi, bunyinya menjadi: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.”

Menanggapi permintaan KIai Sanusi dan Ki Bagus Hadikoesoemo, Soekarno kembali mengingatkan akan adanya kesepakatan yang telah dicapai dalam Panitia Sembilan. Soekarno, lagi-lagi meminta kepada seluruh anggota BPUPKI:



“Sudahlah hasil kompromis diantara 2 pihak, sehingga dengan adanya kompromis itu, perselisihan diantara kedua pihak hilang. Tiap kompromis berdasar kepada memberi dan mengambil, geven dan nemen. Ini suatu kompromis yang berdasar memberi dan mengambil… Pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya. Jadi, panitia memegang teguh akan kompromis yang dinamakan oleh anggota yang terhormat Muh. Yamin “Djakarta Charter”, yang disertai perkataan Tuan anggota Soekiman, gentlemen agreement, supaya ini dipegang teguh di antara pihak Islam dan pihak kebangsaan.” (Tentang perdebatan dalam BPUPKI, lihat A.B. Kusuma, Lahirnya Undang-undang Dasar 1945, Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Uiversitas Indonesia, 2004).


Semangat Jihad

Peristiwa tanggal 18 Agustus 1945 membuktikan kebesaran jiwa para ulama dan tokoh Islam dalam menyikapi persatuan dan kesatuan bangsa. Tentunya, sikap itu merupakan rangkaian panjang dari keterlibatan para ulama dalam berbagai perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah. Memang, sejarah mencatat, goresan tinta ulama memiliki andil signifikan dalam meraih kemerdekaan NKRI.

Bahkan, perjuangan mengusir penjajah, sering kali memadukan goresan tinta ulama dan kucuran darah syuhada. Penjajahan bukan soal politik dan ekonomi, tetapi juga masalah iman. Sebab, penjajah membawa misi  “Gospel”, yakni menyebarkan agama mereka dan merusak keagamaan penduduk muslim. Karena itu, sepanjang sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, peranan para ulama Islam sangat menonjol.

Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, (2005), Azyumardi Azra mengungkap sejumlah contoh perjuangan para ulama dalam melawan penjajah. Sebutlah contoh Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M). Ulama terkenal ini bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah. Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Maqassari memimpin sekitar 4.000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Menurut satu versi, Syekh Yusuf berhasil ditangkap setelah komandan pasukan Belanda, van Happel, berhasil menyusup ke markas Syekh Yusuf, dengan menyamar sebagai Muslim dengan pakaian Arab. Syekh Yusuf pun dibuang ke Srilanka dan Afrika Selatan untuk mengurangi pengaruhnya. Tapi, justru di kedua tempat itu, Syekh Yusuf berhasil mengembangkan Islam dengan mengajar dan menulis. Usaha Belanda untuk mengkristenkan Syekh Yusuf juga gagal. Sarjana Evangelis Belanda, Samuel Zwemer, mengkritik Petrus Kalden, pendeta dari Gereja Belanda Tua Cape Town, yang gagal menjadikan Syekh Yusuf sebagai pemeluk Kristen.

Ulama lain, Syekh Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789), dikenal sebagai ulama paling terkemuka dari wilayah Palembang. Meskipun menetap Mekkah, Syekh Abd al-Shamad memiliki kepedulian kuat terhadap kondisi Nusantara dan mendorong kaum Muslim untuk melaksanakan jihad melawan penjajah.

Sebuah kitab berbahasa Arab tentang keutamaan jihad fi-sabilillah ditulisnya dengan judul Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah. Melalui kitabnya ini, Syekh al-Palimbani menjelaskan bahwa wajib hukumnya bagi kaum Muslim untuk melakukan jihad melawan kaum kafir.

Dalam The Achehnese, seperti dikutip Azra, Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa karya Syekh al-Palimbani merupakan sumber rujukan utama berbagai karya mengenai jihad dalam Perang Aceh yang sangat panjang melawan Belanda, mulai 1873 sampai awal abad ke-20. Kitab ini menjadi model imbauan agar kaum Muslim berjuang melawan kaum kafir.

Bahkan, setelah kemerdekaan diraih, para ulama tetap mengawal kemerdekaan Indonesia. Itu ditunjukkan oleh kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari dengan fatwa jihadnya, pada 14 September1945.

Isi Resolusi Jihad yang diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa Madura itu antara lain berbunyi: (1) Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan, (2) Umat Islam, terutama warga NU, wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia, (5) Kewajiban tersebut adalah “jihad” yang menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam (fardhu ain) yang berada dalam jarak radius 94 km (yakni jarak dimana umat Islam boleh melakukan shalat jama’ dan qasar). Adapun bagi mereka yang berada di luar jarak tersebut, wajib membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak 94 km tersebut. Dalam teks lain, ada tambahan: “Kaki tangan musuh adalah pemecah belah kebulatan tekad dan kehendak rakyat dan harus dibinasakan; menurut hukum Islam sabda hadits (Nabi) riwayat Muslim.”

Dampak dari Resolusi Jihad itu sungguh luar biasa. Puluhan ribu kyai dan santri berperang melawan tentara Sekutu, yang baru saja memenangkan Perang Dunia kedua. Lima belas ribu tentara Sekutu dengan persenjataan serba canggih tak mampu menghadapi pasukan perlawanan pasukan kyai dan santri. Bahkan,  Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di tangan laskar santri. (Lihat, el-Guyanie, Resolusi Jihad Paling Syar’i, 2010).


Dimana Ulama Kini?

Fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari – yang ketika itu juga sebagai pemimpin tertinggi umat Islam di Indonesia, sebagai Ketua Majelis Syuro Masyumi — menunjukkan kebesaran jiwa para ulama dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia. Sikap itu juga menunjukkan kedewasaan berpolitik dalam bingkai NKRI.  Meskipun tidak seluruh tuntutan dan cita-cita para ulama itu terpenuhi dalam memperjuangkan dasar negara, tetapi mereka “tidak ngambek” atau lari dari NKRI.  Fatwa bahwa mempertahankan kemerdekaan RI adalah wajib hukumnya, menunjukkan pembelaan hidup-mati umat Islam Indonesia terhadap kemerdekaan Indonesia.

Merenungkan sejarah perjuangan para ulama dalam memperjuangkan dan membela kemerdekaan Indonesia itu, kita patut bertanya sekarang, di mana para ulama itu ditempatkan? Dalam upacara peringatan kemerdekaan, biasanya ulama ditempatkan dalam posisi “terhormat” sebagai “tukang baca doa”.  Lumayan! Daripada tidak sama sekali! Akan tetapi, apakah ulama diajak rembukan untuk memusyawarahkan, bagaimana seharusnya bangsa kita ini mensyukuri nikmat kemerdekaan yang katanya diraih “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” itu?

Mengapa memperingati kemerdekaan yang resmi dan diakui oleh institusi kenegaraan hanya berupa upacara bendera? Bagaimana jika bentuk peringatan resmi kemerdekaan RI itu dilakukan dengan khataman al-Quran dan pembacaan kisah-kisah perjuangan para pahlawan di seluruh masjid di Indonesia? Bukankah itu sesuatu yang bagus?  Silakan yang melaksanakan lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang; tetapi tidak ada salahnya jika Presiden bersama para ulama memberi contoh memperingati kemerdekaan dengan acara ibadah di masjid. Agak aneh, bahwa masjid-masjid di Indonesia belum terdengar menyelenggarakan acara peringatan kemerdekaan RI, padahal, kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan yang panjang oleh para ulama dan para syuhada.

Lebih menyedihkan, setelah kemerdekaan, ada usaha – sadar atau tidak – untuk menyingkirkan ulama dari perumusan konsep-konsep pembangunan untuk mengisi kemerdekaan. Ulama dijadikan sebagai makhluk yang berharga terutama saat menjelang pilihan presiden atau pilkada.  Saat diperlukan – kadang ulama didatangi; diminta doa, restu, atau dukungan politik, agar jabatan politik diraih; agar hujan turun saat kekeringan; agar krisis berlalu saat dilanda krisis. Setelah semua kebutuhan terpenuhi, ulama ditinggalkan, diposisikan sebagai “pendorong mobil mogok”.

Tapi, itu pun masih lumayan; daripada para pejabat datang ke dukun-dukun klenik. Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka  wajib menjaga diri. Tugas utamanya adalah melanjutkan perjuangan menegakkan misi kenabian. Ulama tidak perlu minta dihormati, apalagi sampai “gila hormat”.  Kata Imam al-Ghazali, jika ulama rusak, cinta harta dan kehormatan (hubbul mal wal-jah), maka rusaklah penguasa. Jika penguasa rusak, maka rakyat pun binasa.

Sejarah telah membuktikan, bagaimana para ulama kita begitu hebat perjuangannya dalam menyebarkan dan menjaga Islam di seluruh negeri. Begitu hebat dan cerdiknya para Wali Songo yang mendidik dan kemudian mengangkat Raden Patah sebagai Raja Muslim pertama di Tanah Jawa. Jika ulama setia pada perjuangan menegakkan cita-cita mulia para anbiya, pasti para penguasa tak akan memandang mereka hina! Wallahu A’lam.*

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Lihat Selengkapnya
Sabtu, 06 Agustus 2016, 8:53 WIB

Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Bantuan dari Kuwait di Graha Santri STIKES Surya Global




Setelah gedung Graha Santri yang terletak di sebelah barat kampus STIKES Surya Global selesai dibangun dan digunakan oleh para mahasiswa santri baru, pada hari Jum'at 2 Agustus 2016 dimulailah pembangunan Masjid bantuan dari Baituz Zakat dari negara Kuwait yang letaknya persis di tepi Jalan Ring Road Selatan Yogyakarta. Peletakan batu pertama pembangunan Masjid di komplek Graha Santri STIKES Surya Global ini adalah bantuan dari Baituz Zakat negara Kuwait.

Bapak Drs H Hamid Noor Yasin MM selaku perwakilan Baituz Zakat Kuwait sekaligus Direktur Islah Bina Ummat Indonesia yang pernah menjabat anggota DPR RI periode 2014-2019 menyampaikan bahwa masjid yang dibangun di komplek Graha Santri STIKES Surya Global ini Insya Allah adalah masjid terbesar yang pernah dibangun oleh lembaga Baituz Zakat Kuwait di Indonesia. Dan nantinya akan diupayakan juga untuk kelengkapan fasilitas yang lain seperti sound system, Al Qur'an dll yang diperkirakan akan selesai Insya Allah selama kurun waktu 4 bulan. Pada pidato sambutannya bapakHamid menyampaikan betapa penting peran masjid bagi umat Islam. Ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam mendapat perintah Hijrah dari Mekkah ke Madinah dan kemudian beristirahat di sebuah kota. Selama 14 hari di kota Quba yang pertamakali dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat adalah membangun masjid, maka terkenal bahwa masjid yang pertama dibangun oleh Rasulullah adalah masjid Quba. Sesampainya di kota Madinah maka yang pertama dilakukan oleh Rasulullah adalah mencari tempat untuk dibangun masjid, maka dibangunlah masjid yang kemudian diberi nama Masjid Nabawi, yang sampai sekarang sudah mengalama renovasi lebih dari 35 kali. Pada saat itu masih memakai pelepah kurma, sekarang sudah memakai teknologi yang luar biasa yang bisa menampung 2 juta jama'ah. Kemudian, ketika Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassalam mendapat perintah Isra' Mi'raj, yang juga merupakan perjalanan dari masjid satu dengan masjid yang lain dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian naik ke Sidratul Muntaha untuk mendapatkan perintah shalat 5 waktu: Subuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib sampai Isya'. Oleh karena itu para ulama menyampaikan bahwa masjid bagi umat Islam adalah tempat yang paling vital, tempat yang sangat penting, laksana air bagi ikan, artinya ikan tidak bisa hidup tanpa air. Umat Islam, kaum Muslimin hidupnya tidak tertata dengan baik ketika tidak mencintai dan memakmurkan masjidnya. Oleha karen itu bapak Hamid berharap kehadiran masjid ini nantinya menjadi penyempurna dan pelengkap dari fasilitas yang ada di Pondok Pesantren Mahasiswa STIKES Surya Global ini sehingga para santriwan dan santriwati bisa memanfaatkan masjid sebaik-baiknya sehingga dari kampus ini lahirlah generasi-generasi yang handal, generasi yang memiliki kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional dan memiliki kecerdasan intelektual.

Selanjutnya Peletakan batu pertama dilakukan oleh bapak Drs H Hamid Noor Yasin MM, ketua Pondok Pesantren Mahasiswa STIKES Surya Global bapak Sugiono, S.IP, M.PH dan Ketua STIKES Surya Global bapak Dwi Suharyanta, ST, MM, M.Kes yang dihadiri anggota Majelis STIKES Surya Global, para ustadz dan ustadzah pondok pesantren mahasiswa dan segenap civitas akademika STIKES Surya Global di tepi jalan Ringroad Selatan Yogyakarta.



Sambutan dari bapak Sugiono, S.IP, M.PH selaku Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa STIKES Surya Global



Sambutan Bapak Drs H Hamid Noor Yasin MM selaku perwakilan Baituz Zakat Kuwait sekaligus Direktur Islah Bina Ummat Indonesia



Peletakan batu pertama oleh Bapak Drs H Hamid Noor Yasin MM


Peletakan batu oleh bapak Sugiono, S.IP, M.PH



Allahu Akbar!!! Semoga pembangunan Masjid berjalan lancar dan sukses...
Lihat Selengkapnya
Jumat, 22 Juli 2016, 10:39 WIB

PENYERAHAN PRAKTEK BELAJAR LAPANGAN STIKES SURYA GLOBAL DI DESA TRIMURTI KECAMATAN SRANDAKAN KABUPATEN BANTUL



Senin, 18 Juli 2016 bertempat di Balai Desa Trimurti, Srandakan, Bantul, Yogyakarta mulai pukul 09.00 Wib Program Studi Kesehatan Masyarakat melaksanakan Penyerahan Praktek Belajar Lapangan (PBL) dibuka oleh Kepala Prodi Kesehatan Masyarakat STIKES Surya Global, ibu Nor Wijayanti, S.KM, M.Kes yang dihadiri oleh Bapak Lurah Desa Trimurti dan seluruh Kepala Dukuh Desa Trimurti serta perwakilan dari Pelayanan Kesehatan yang ada di Desa Trimurti.




Pelaksanaan PBL pada tahun angkatan 2013 bertempat di wilayah kota Bantul, yaitu kecamatan Srandakan Desa Trimurti. Instansi terdiri dari Puskesmas, Klinik dan PKU. Mahasiswa yang mengikuti PBL adalah sebanyak 230 mahasiswa yang dibagi ke dalam 19 Pedukuhan dan 23 Kelompok, sehingga masing-masing kelompok berjumlah 10 mahasiswa. Waktu kegiatan kurang lebih selama satu bulan, mulai 18 Juli sampai 18 Agustus 2016, dengan bobot sebesar 3 SKS.




PBL merupakan kegiatan belajar di lapangan atau di masyarakat dimana diharapkan mahasiswa mampu melakukan diagnosis masalah kesehatan yang ada di masyarakat dan selanjutnya dapat melaksanakan intervensi sebagai bagian dari upaya penyelesaian masalah sesuai alur problem solving. Mahasiswa juga mempersiapkan kuesioner dibawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan dari STIKES Surya Global sebagai instrumen untuk pengumpulan data dalam kegiatan diagnosis kesehatan masyarakat, mengidentifikasi masalah, menentukan prioritas masalah serta prioritas penyebab masalah. Kegiatan selanjutnya menentukan alternatif pemecahan masalah serta memilih prioritas. (Devita-PMKM)

Lihat Selengkapnya