Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- PENDAFTARAN MAHASISWA BARU STIKES SURYA GLOBAL 2019 2020 telah DIBUKA -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺

Berita

Selasa, 16 Agustus 2016, 9:41 WIB

Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Oleh: Dr. Adian Husaini


PEMBUKAAN UUD 1945 menegaskan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”.  Rumusan itu sungguh indah, sesuai dengan rumusan aqidah ahlus sunnah, memadukan aspek rahmat Allah dan usaha manusia. Bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dan kita mengakui, bahwa Allah Subhanahu Wata’ala adalah yang menganugerahi kemerdekaan. Pengakuan itu kita letakkan dalam Pembukaan Konstitusi, dan biasanya dibaca setiap upacara bendera.


Dengan pemahaman seperti itu, sepatutnya bangsa Indonesia, dan kaum Muslim khususnya, tidak boleh merasa angkuh, bahwa kemerdekaan itu diraih semata-mata karena usaha perjuangan rakyat Indonesia. Tapi, kemerdekaan adalah anugerah Allah, sehingga kemerdekaan kita pahami sebagai nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri. Syukur, maknanya menggunakan nikmat itu sesuai dengan Yang Memberi Nikmat, bukan menurut hawa nafsu kita. Semoga kita dan para pemimpin kita sadar akan makna penting dari kemerdekaan.

Rumusan penting itu memang  dihasilkan dari goresan tinta ulama dan cendekiawan Muslim yang berunding dalam Panitia Sembilan dalam BPUPKI tahun 1945 yang menghasilkan dokumen sejarah penting, yaitu Piagam Jakarta.  Syukurlah, rumusan “Atas berkat rahmat Allah… “ itu tidak dituntut untuk dicoret sebagaimana rumusan tujuh kata “(Ketuhanan)… dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Seperti kita pahami, “tujuh kata” itu kemudian dicoret dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945. Bung Hatta mengaku, ia mendapat telepon dari seorang perwira Jepang yang mengaku menyampaikan aspirasi kaum Kristen Indonesia Timur. Bahwa, mereka tidak mau bergabung dengan NKRI jika “tujuh kata” itu tidak dihapus. Hingga kini, peristiwa seputar pencoretan “tujuh kata” itu masih misterius, sebab sampai meninggalnya, Bung Hatta tidak membuka siapa sebenarnya perwira Jepang yang meneleponnya tersebut.

Tapi, bagaimana pun, peristiwa itu telah menjadi sejarah. Kita ambil hikmahnya.  Bagi umat Islam, tanggal 17 Agustus 1945, adalah hari yang patut disyukuri sebagai rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, dan tanggal 18 Agustus 1945 adalah hari yang jangan dilupakan. Itulah hari dimana para tokoh Islam menerima tuntutan kaum Kristen Indonesia Timur, demi  terpeliharanya kemerdekaan dan juga demi persatuan dan kesatuan NKRI.

Kita perlu mengingat kembali, bahwa setelah Puagam Jakarta ditetapkan, masih ada sebagian anggota BPUPKI yang menggugatnya. Akhirnya, Bung Karno sendiri menegaskan: “Saya ulangi lagi bahwa ini satu kompromis untuk menyudahi kesulitan antara kita bersama. Kompromis itu pun terdapat sesudah keringat kita menetes. Tuan-tuan, saya kira sudah ternyata bahwa kalimat “dengan didasarkan kepada ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sudah diterima Panitia ini.”

Piagam Jakarta adalah naskah pembukaan (preambule) Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang disiapkan untuk konstitusi Negara Indonesia merdeka. Ketika naskah pembukaan itu sudah disepakati, maka naskah-naskah rincian pasal-pasal dalam UUD 1945 masih menjadi masalah yang diperdebatkan.


Dalam , KH Wahid Hasyim mengusulkan, agar Presiden adalah orang Indonesia asli dan “yang beragama Islam”. Begitu juga draft pasal 29 diubah dengan ungkapan: “Agama Negara ialah agama Islam”, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain, untuk dan sebagainya. Kata Kyai Wahid Hasyim: “Hal ini erat perhubungan dengan pembelaan. Pada umumnya pembelaan yang berdasarkan atas kepercayaan sangat hebat, karena menurut ajaran agama, nyawa hanya boleh diserahkan buat ideologi agama.”


Usul KH Wahid Hasyim disokong oleh Soekiman. Tapi, Haji Agus Salim mengingatkan, bahwa usul itu berarti mementahkan kembali kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya antara golongan Islam dan golongan kebangsaan. Usulan Wahid Hasyim akhirnya ditolak. Tapi, pada sidang tanggal 14 Juli 1945, Ki Bagus Hadikoesoemo, tokoh Muhammadiyah kembali mengangkat usul Kyai Sanusi yang meminta agar frase “bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta dihapuskan saja. Jadi, bunyinya menjadi: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.”

Menanggapi permintaan KIai Sanusi dan Ki Bagus Hadikoesoemo, Soekarno kembali mengingatkan akan adanya kesepakatan yang telah dicapai dalam Panitia Sembilan. Soekarno, lagi-lagi meminta kepada seluruh anggota BPUPKI:



“Sudahlah hasil kompromis diantara 2 pihak, sehingga dengan adanya kompromis itu, perselisihan diantara kedua pihak hilang. Tiap kompromis berdasar kepada memberi dan mengambil, geven dan nemen. Ini suatu kompromis yang berdasar memberi dan mengambil… Pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya. Jadi, panitia memegang teguh akan kompromis yang dinamakan oleh anggota yang terhormat Muh. Yamin “Djakarta Charter”, yang disertai perkataan Tuan anggota Soekiman, gentlemen agreement, supaya ini dipegang teguh di antara pihak Islam dan pihak kebangsaan.” (Tentang perdebatan dalam BPUPKI, lihat A.B. Kusuma, Lahirnya Undang-undang Dasar 1945, Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Uiversitas Indonesia, 2004).


Semangat Jihad

Peristiwa tanggal 18 Agustus 1945 membuktikan kebesaran jiwa para ulama dan tokoh Islam dalam menyikapi persatuan dan kesatuan bangsa. Tentunya, sikap itu merupakan rangkaian panjang dari keterlibatan para ulama dalam berbagai perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah. Memang, sejarah mencatat, goresan tinta ulama memiliki andil signifikan dalam meraih kemerdekaan NKRI.

Bahkan, perjuangan mengusir penjajah, sering kali memadukan goresan tinta ulama dan kucuran darah syuhada. Penjajahan bukan soal politik dan ekonomi, tetapi juga masalah iman. Sebab, penjajah membawa misi  “Gospel”, yakni menyebarkan agama mereka dan merusak keagamaan penduduk muslim. Karena itu, sepanjang sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, peranan para ulama Islam sangat menonjol.

Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, (2005), Azyumardi Azra mengungkap sejumlah contoh perjuangan para ulama dalam melawan penjajah. Sebutlah contoh Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M). Ulama terkenal ini bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah. Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Maqassari memimpin sekitar 4.000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Menurut satu versi, Syekh Yusuf berhasil ditangkap setelah komandan pasukan Belanda, van Happel, berhasil menyusup ke markas Syekh Yusuf, dengan menyamar sebagai Muslim dengan pakaian Arab. Syekh Yusuf pun dibuang ke Srilanka dan Afrika Selatan untuk mengurangi pengaruhnya. Tapi, justru di kedua tempat itu, Syekh Yusuf berhasil mengembangkan Islam dengan mengajar dan menulis. Usaha Belanda untuk mengkristenkan Syekh Yusuf juga gagal. Sarjana Evangelis Belanda, Samuel Zwemer, mengkritik Petrus Kalden, pendeta dari Gereja Belanda Tua Cape Town, yang gagal menjadikan Syekh Yusuf sebagai pemeluk Kristen.

Ulama lain, Syekh Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789), dikenal sebagai ulama paling terkemuka dari wilayah Palembang. Meskipun menetap Mekkah, Syekh Abd al-Shamad memiliki kepedulian kuat terhadap kondisi Nusantara dan mendorong kaum Muslim untuk melaksanakan jihad melawan penjajah.

Sebuah kitab berbahasa Arab tentang keutamaan jihad fi-sabilillah ditulisnya dengan judul Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah. Melalui kitabnya ini, Syekh al-Palimbani menjelaskan bahwa wajib hukumnya bagi kaum Muslim untuk melakukan jihad melawan kaum kafir.

Dalam The Achehnese, seperti dikutip Azra, Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa karya Syekh al-Palimbani merupakan sumber rujukan utama berbagai karya mengenai jihad dalam Perang Aceh yang sangat panjang melawan Belanda, mulai 1873 sampai awal abad ke-20. Kitab ini menjadi model imbauan agar kaum Muslim berjuang melawan kaum kafir.

Bahkan, setelah kemerdekaan diraih, para ulama tetap mengawal kemerdekaan Indonesia. Itu ditunjukkan oleh kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari dengan fatwa jihadnya, pada 14 September1945.

Isi Resolusi Jihad yang diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa Madura itu antara lain berbunyi: (1) Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan, (2) Umat Islam, terutama warga NU, wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia, (5) Kewajiban tersebut adalah “jihad” yang menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam (fardhu ain) yang berada dalam jarak radius 94 km (yakni jarak dimana umat Islam boleh melakukan shalat jama’ dan qasar). Adapun bagi mereka yang berada di luar jarak tersebut, wajib membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak 94 km tersebut. Dalam teks lain, ada tambahan: “Kaki tangan musuh adalah pemecah belah kebulatan tekad dan kehendak rakyat dan harus dibinasakan; menurut hukum Islam sabda hadits (Nabi) riwayat Muslim.”

Dampak dari Resolusi Jihad itu sungguh luar biasa. Puluhan ribu kyai dan santri berperang melawan tentara Sekutu, yang baru saja memenangkan Perang Dunia kedua. Lima belas ribu tentara Sekutu dengan persenjataan serba canggih tak mampu menghadapi pasukan perlawanan pasukan kyai dan santri. Bahkan,  Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di tangan laskar santri. (Lihat, el-Guyanie, Resolusi Jihad Paling Syar’i, 2010).


Dimana Ulama Kini?

Fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari – yang ketika itu juga sebagai pemimpin tertinggi umat Islam di Indonesia, sebagai Ketua Majelis Syuro Masyumi — menunjukkan kebesaran jiwa para ulama dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia. Sikap itu juga menunjukkan kedewasaan berpolitik dalam bingkai NKRI.  Meskipun tidak seluruh tuntutan dan cita-cita para ulama itu terpenuhi dalam memperjuangkan dasar negara, tetapi mereka “tidak ngambek” atau lari dari NKRI.  Fatwa bahwa mempertahankan kemerdekaan RI adalah wajib hukumnya, menunjukkan pembelaan hidup-mati umat Islam Indonesia terhadap kemerdekaan Indonesia.

Merenungkan sejarah perjuangan para ulama dalam memperjuangkan dan membela kemerdekaan Indonesia itu, kita patut bertanya sekarang, di mana para ulama itu ditempatkan? Dalam upacara peringatan kemerdekaan, biasanya ulama ditempatkan dalam posisi “terhormat” sebagai “tukang baca doa”.  Lumayan! Daripada tidak sama sekali! Akan tetapi, apakah ulama diajak rembukan untuk memusyawarahkan, bagaimana seharusnya bangsa kita ini mensyukuri nikmat kemerdekaan yang katanya diraih “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” itu?

Mengapa memperingati kemerdekaan yang resmi dan diakui oleh institusi kenegaraan hanya berupa upacara bendera? Bagaimana jika bentuk peringatan resmi kemerdekaan RI itu dilakukan dengan khataman al-Quran dan pembacaan kisah-kisah perjuangan para pahlawan di seluruh masjid di Indonesia? Bukankah itu sesuatu yang bagus?  Silakan yang melaksanakan lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang; tetapi tidak ada salahnya jika Presiden bersama para ulama memberi contoh memperingati kemerdekaan dengan acara ibadah di masjid. Agak aneh, bahwa masjid-masjid di Indonesia belum terdengar menyelenggarakan acara peringatan kemerdekaan RI, padahal, kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan yang panjang oleh para ulama dan para syuhada.

Lebih menyedihkan, setelah kemerdekaan, ada usaha – sadar atau tidak – untuk menyingkirkan ulama dari perumusan konsep-konsep pembangunan untuk mengisi kemerdekaan. Ulama dijadikan sebagai makhluk yang berharga terutama saat menjelang pilihan presiden atau pilkada.  Saat diperlukan – kadang ulama didatangi; diminta doa, restu, atau dukungan politik, agar jabatan politik diraih; agar hujan turun saat kekeringan; agar krisis berlalu saat dilanda krisis. Setelah semua kebutuhan terpenuhi, ulama ditinggalkan, diposisikan sebagai “pendorong mobil mogok”.

Tapi, itu pun masih lumayan; daripada para pejabat datang ke dukun-dukun klenik. Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka  wajib menjaga diri. Tugas utamanya adalah melanjutkan perjuangan menegakkan misi kenabian. Ulama tidak perlu minta dihormati, apalagi sampai “gila hormat”.  Kata Imam al-Ghazali, jika ulama rusak, cinta harta dan kehormatan (hubbul mal wal-jah), maka rusaklah penguasa. Jika penguasa rusak, maka rakyat pun binasa.

Sejarah telah membuktikan, bagaimana para ulama kita begitu hebat perjuangannya dalam menyebarkan dan menjaga Islam di seluruh negeri. Begitu hebat dan cerdiknya para Wali Songo yang mendidik dan kemudian mengangkat Raden Patah sebagai Raja Muslim pertama di Tanah Jawa. Jika ulama setia pada perjuangan menegakkan cita-cita mulia para anbiya, pasti para penguasa tak akan memandang mereka hina! Wallahu A’lam.*

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Lihat Selengkapnya
Senin, 27 Juni 2016, 10:56 WIB

MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN

MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN


Bulan suci Ramadhan merupakan sebuah bulan dimana lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi bulan pernah berkah dimana sangat dinantikan oleh setiap muslim di dunia. Tentu, setiap umat Muslim menjalankan puasa dengan menahan lapar serta haus serta hawa nafsu negatif lainnya.

Dengan menahan lapar dan haus di bulan Ramadhan, maka anda akan mendapat beribu manfaat yang luar biasa, diantaranya manfaat bagi kesehatan:

1. Yang paling utama adalah proses detoksifikasi (menghilangkan racun tubuh) karena makanan diistirahatkan untuk dicerna, sehingga hati dan ginjal bisa maksimal membersihkan sisa makanan dan racun yg mengendap. Makanan yang banyak dan tidak terkontrol merupakan sebab penyakit, demikian juga berdasarkan hadits bahwa perut manusia adalah sejelek-sejelak wadah yang diisi.

Sebagaimana hadits:

ﻣﺎ ﻣﻸ ﺁﺩﻣﻲٌّ ﻭﻋﺎﺀً ﺷﺮًّﺍ ﻣﻦ ﺑﻄﻦ، ﺑﺤﺴﺐ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺃﻛﻼﺕ ﻳُﻘﻤﻦ ﺻﻠﺒَﻪ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻣﺤﺎﻟﺔ، ﻓﺜُﻠﺚٌ ﻟﻄﻌﺎﻣﻪ، ﻭﺛﻠﺚٌ ﻟﺸﺮﺍﺑﻪ، ﻭﺛﻠﺚٌ ﻟﻨﻔَﺴِﻪ

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas” [HR At-Tirmidzi di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 2265]

Imam Al-Ghazali berkata:

ﺇﻥ ﻓﻲ ﻗﻠﺔ ﺍﻷﻛﻞ ﺻﺤﺔَ ﺍﻟﺒﺪﻥ، ﻭﺩﻓﻊَ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ؛ ﻓﺈﻥ ﺳﺒﺒﻬﺎ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻷﻛﻞ

“Makan sedikit bisa menyehatkan badan dan mencegah penyakit, karena sebab penyakit adalah banyaknya makan” (Ihya ‘ulumuddin 3/83)


2. Ketika kita berniat sahur malam hari, maka dengan niat ini atas perintah otak akan mengatur “mindset” tubuh agar:

  • Metobolisme tubuh dikurangi untuk hemat energi, sehingga otomatis mengurangi emosi, karena emosi itu butuh energi yg besar
  • Metabolisme turun bisa menurunkan hipertensi dan kadar gula darah, dan kolesterol serta baik bagi pembuluh darah dan jantung
  • Pengeluaran asam lambung dikurangi, sehingga tidak merasa lapar. Ini bagus untuk penderita maag, karena mayoritas maag,  bukan karena penyakit, tetapi karena psikologis stres dan depresi
  • Kekebalan tubuh akan meningkat karena aktifnya beberapa zat yang memacu kekebalan tubuh
Inilah pentingnya sahur yaitu berniat, jika tidak berniat maka tubuh dan otak tidak mengatur “mindset

Dalam sahur terdapat berkah sebagaimana dalam hadits:

ﺗَﺴَﺤَّﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﺑَﺮَﻛَﺔً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)


Bahkan sahur ini yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab dalam hadits,

ﻓَﺼْﻞُ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺻِﻴَﺎﻣِﻨَﺎ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻛْﻠَﺔُ ﺍﻟﺴَّﺤَﺮِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan  Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096)

Masih banyak lagi manfaat puasa lainnya bagi kesehatan dan kestabilan emosi serta kebahagiaan.

­­­­­­­­­­____________________
Sumber: dr. Raehanul Bahraen

 

 

Lihat Selengkapnya
Kamis, 28 April 2016, 3:59 WIB

Pentingnya NIRA, STR, & SIPP Bagi Seorang Perawat



Perawat merupakan seorang yang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik didalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan (UUK. No. 38 tahun 2014).

Pemberian asuhan keperawatan merupakan tugas praktik keperawatan yang merupakan rangkaian interaksi perawat dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya.

Dalam menjalankan praktik keperawatan perawat dituntut untuk memiliki NIRA, STR, dan SIPP hal ini sesuai dengan perautaran perundang-undangan, permenkes, dan juga peraturan organisasi profesi yang diakui oleh perundang-undangan yakni PPNI, mengapa NIRA, STR, & SIPP WAJIB dimiliki oleh perwat, berikut penjelasanya yang dianalisis dari Undang-Undang Keperawatan No. 38 Tahun 2014 dan AD/ART PPNI

  • NIRA (Nomor Induk Registrasi Anggota)

NIRA dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) PPNI yang berlaku secara Nasional. Seorang perawat yang memiliki NIRA berarti perawat tersebut telah tercatat sebagai Anggota PPNI. Dalam pengurusan NIRA terbilang mudah perawat cukup mengakses simk.inna-ppni.or.id setelah itu melapor ke komisariat/ppni kab/kota telah melakukan pendaftaran NIRA secara online dan membayar besaran uang pangkal bagi anggota baru Rp. 100.000 ditambah iuran anggota sebesar Rp. 200.000 + Rp. 60.000 (unti ICN/Internation Council Nursing) jadi total pembayaran untuk menjadi anggota PPNI Rp. 360.000 (Rp. 100.000 uang pangkal & Rp. 260.000 iuran /tahun) hal ini sesuai dengan amanah AD/ART PPNI.

  • STR (Surat Tanda Registrasi)

STR merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) kepada perawat yang telah LULUS UJI KOMPETENSI (telah memiliki sertifikat kompetensi). UKOM (Uji Kompetensi) diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI Kemenristekdikti). Dengan memiliki STR menandakan perawat tersebut Kompoten dan bisa bekerja dipelayanan keperawatan baik difasilitas kesehatan ataupun mandiri. Persyaratan pengurusan STR perawat cukup menyediakan berkas (FC Ijazah Ners/Diploma, Sertifikat Kompetensi, & surat rekomendasi dari PPNI Provinsi) dan diajukan ke Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) yang berkantor di Dinas Kesehatan Provinsi.

  • SIPP (Surat Ijin Praktik Perawat)

SIPP bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada perawat sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik keperawatan. Untuk pengurusan SIPP perawat mengajukan berkas (STR, Rekomendasi PPNI Kab/kota domisili) diajukan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana perawat tersebut berdomisili. SIPP diberikan kepada perawat paling banyak 2 (Fasilitas kesehatan 1 dan Praktik Mandiri 1) untuk praktik mandiri perawat wajib mencantumkan papan praktik keperawatan.

Jadi dengan memiliki NIRA, STR, & SIPP perawat tersebut telah mematuhi aturan perundang-undangan sehingga dalam menjalankan praktik keperawatan perawat merasa aman dan nyaman.

Dikutip dari www.gustinerz.com

Lihat Selengkapnya
Rabu, 02 Maret 2016, 10:02 WIB

Musabaqoh Tilawatil Quran ke 4 (MTQ4) LDK Jamaah Al-Kahfi Pesantren Mahasiswa STIKes Surya Global Yogyakarta
































LDK Jamaah Al-Kahfi STIKes Surya Global Yogyakarta dalam Musabaqoh Tilawatil Quran yang ke 4 (MTQ4)

Adapun Rangkaian Acara MTQ 4 yaitu :

Grand Opening MTQ 4 
03 April 2016

Lomba Tilawatil Quran 
04 April 2016

Lomba Tahfidz Quran 
05 April 2016

Lomba Fahmil Quran 
06 April 2016

Lomba Syahril Quran 
07 April 2016

✒ Lomba Kaligrafi
08 April 2016

Lomba Dai dan Daiyah 
08 April 2016

Lomba Nasyid 
09 April 206

Tabligh Akbar MTQ 4
10 April 2016


Pembayaran pendaftaran melalui Rek : 7075062618 Bank Mandiri atas nama Sabri Lisa
Nb: Harap Konfirmasi jika sudah transfer dan bukti transfer disimpan
Informasi lebih lanjut bisa menghubungi 
Via WhatsApp 0895339983841
08996562402
BBM 59652AFF


Format Pendaftaran : Nama Lengkap_asal instansi_Cabang Lomba_no.Handphone

LDK Jakhfi 
Satu langkah 
Satu tujuan 
Kita Bisaa 
Allahu Akbar... !!!

Presented By : LDK Jamaah Al-Kahfi 
Supported By : ODOJ Jogja

===============
✔Regards
Twitter: @ldk_jakhfissg 
FB: LDK Jama'ah Al-Kahfi Stikes Surya Global Yogyakarta
Email: syiarjakhfi@gmail.com
Website: ldkjakhfissg.blogspot.com

Lihat Selengkapnya
Rabu, 04 November 2015, 1:50 WIB

Tentang FARMAKOGNOSI



Kata Farmakognosi berasal dari dua perkataan Yunani yaitu Pharmakon yang berarti obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan.

Jadi farmakognosi berarti pengetahuan tentang obat, di Indonesia farmakognosi dikhususkan ilmu yang mempelajari tentang obat dari bahan nabati, hewani dan mineral.

Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji biofarmasetika.

Farmakognosi adalah sebagai bagian biofarmasi, biokimia dan kimia sintesa, sehingga ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang diuraikan dalam definisi Fluckiger. Sedangkan di Indonesia saat ini untuk praktikum Farmakognosi hanya meliputi segi pengamatan makroskopis, mikroskopis dan organoleptis yang seharusnya juga mencakup indentifikasi, isolasi dan pemurnian setiap zat yang terkandung dalam simplisia dan bila perlu penyelidikan dilanjutkan ke arah sintesa. Sebagai contoh Chloramphenicol dapat dibuat secara sintesa total, yang sebelumnya hanya dapat diperoleh dari biakkan cendawan Streptomyces venezuela.

Alam memberikan kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan dan mineral yang jika diadakan identifikasi dan menentukan sistematikanya, maka diperoleh bahan alam berkhasiat obat. Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi, dikeringkan, diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap pakai atau yang disebut dengan simplisia, disinilah keterkaitannya dengan farmakognosi.

Beberapa istilah dalam pelajaran farmakognosi antara lain:

Simplisia : adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.

Simplisia Nabati : adalah simplisia berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman.

Eksudat tanaman : Adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.

Simplisia hewani : adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.

Simplisia mineral : adalah simplisia yang berupa mineral (pelikan) yang belum diolah atau dioleh dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

Alkaloida : adalah suatu basa organik yang mengandung unsur Nitrogen (N) pada umumnya berasal dari tanaman , yang mempunyai efek fisiologis kuat/keras terhadap manusia.

Glikosida : adalah suatu zat yang oleh enzim tertentu akan terurai menjadi satu macam gula serta satu atau lebih bukan zat gula. Contohnya amigdalin, oleh enzim emulsin akan terurai menjadi glukosa + benzaldehida + asam sianida.

Enzim : Adalah suatu biokatalisator yaitu senyawa atau zat yang berfungsi mempercepat reaksi biokimia / metabolisme dalam tubuh organisme.

Vitamin : adalah suatu zat yang dalam jumlah sedikit sekali diperlukan oleh tubuh manusia untuk membentuk metabolisme tubuh. Tubuh manusia sendiri tidak dapat memproduksi vitamin.

Hormon : adalah suatu zat yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin yang mampengaruhi faal, tubuh dan mempengaruhi besar bentuk tubuh.

Pemerian : Adalah uraian tentang bentuk, bau, rasa, warna simplisia, jadi merupakan informasi yang diperlukan pada pengamatan terhadap simplisia nabati yang berupa bagian tanaman (kulit, daun, akar, dan sebagainya)


Sumber: www.artikelfarmasi.com

Lihat Selengkapnya
Jumat, 16 Oktober 2015, 10:28 WIB

16 Fakta Menarik Tentang Perawat Dari Berbagai Negara

Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Berbagai hal di suatu daerah sangat berbeda satu sama lain. Begitu pula dengan dunia keperawatan, ada hal-hal menarik dari berbagai negara. Berikut adalah beberapa fakta menarik seputar perawat dari berbagai negara yang disadur dari blog gracefullycare.com

1. Lisensi Registered Nurse – Jepang
Di Jepang, seorang perawat tidak perlu memperbaharui lisensi tanda Registered Nurse (Kalau di Indonesia semacam STR). Sekali berhasil mendapatkannya maka lisensi tersebut akan berlaku untuk seumur hidup. Namun, jika perawat tersebut terbukti melanggar hukum dan menyalahgunakan profesi sebagai perawat, maka lisensinya tersebut akan dicabut.

2. Kerja lembur – Jepang
Jepang termasuk salah satu negara dengan tingkat bekerja penduduknya yang tinggi. Satu dari 23 perawat di Jepang bekerja dengan lebih dari 60 jam lembur perbulannya.

3. Antri untuk berobat – Cina
Mayoritas unit pelayanan kesehatan di Cina (Tiongkok), seorang pasien harus menggambil nomor antrian agar mendapatkan pelayanan kesehatan. Anda harus memulai berbaris jam 3 pagi di luar rumah sakit, dan ketika pintu buka maka semua orang akan masuk sambil berdesakan.

4. Rumah sakit pemerintah – Cina
Perawat yang bekerja di rumah sakit yang disubsidi oleh pemerintah harus menggunakan kembali alat-alat kesehatan seperti sarung tangan dan bahkan jarum suntik.

5. Mahasiswa keperawatan – Vietnam
Mahasiswa keperawatan tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan profesor mereka di Vietnam. Mereka belajar melalui ceramah-ceramah, buku dan bacaan. Mereka tidak memiliki pengalaman bertemu dengan pasien kecuali jika mereka sudah bekerja.

6. Sarung tangan – Meksiko
Rumah sakit di negara meksiko hanya menggunakan sarung tangan ketika diperlukan.

7. Tanpa Pelatihan – Meksiko
Setelah bekerja sebagai perawat selama satu tahun, perawat Meksiko dapat memilih untuk spesialisasi yang diinginkan (tanpa melalui pelatihan tambahan) di daerah kedokteran, seperti critical care atau emergency nursing.

8. Ujian kesehatan fisik – Australia
Perawat yang bekerja di Australia harus terlebih dahulu lulus ujian kesehatan fisik, termasuk lulus X-ray agar dapat bekerja di rumah sakit.

9. Kopi penyelamat – Brazil
100 tahun yang lalu orang-orang di brazil mencari kesembuhan pada pemyembuh rakyat dan obat-obatan yang berbasis turun temurun. Saat industri kopi berkembang mereka berusaha merombak sistem kesehatan dengan membawa 31 perawat dari Amerika Utara untuk membantu memulainya.

10. Privasi – Saudi Arabia
Ketika menangani pasien yang berasal dari kalangan bangsawan maka perawat di Arab Saudi tidak diizinkan untuk memberitahu siapa pasien yang mereka tanggani ketika melalukan evaluasi dan saat mengambil obat. Kalangan bangsawan biasanya berpergian dengan 20 staf yang mengerti kebutuhan pengobatan sang bangsawan.

11. Waktu kerja – Saudi Arabia
Rumah Sakit di Arab Saudi jika perawat bekerja dalam shift 12 jam, maka perawat akan bekerja “tidak resmi” selama 8 jam dan baru bekerja secara resmi untuk 4 jam selanjutnya.

12. Perawat perempuan – Irak

Perempuan Irak yang bekerja sebagai perawat harus pulang sebelum pukul 02:00 dan tidak diperbolehkan untuk menyentuh orang-orang yang bukan suami atau anak-anaknya. Tetapi itu tidak berlaku bagi seorang dokter yang melakukan pekerjaan perawat.

13. Jumlah perawat – Tanzania
Di Tanzania, hanya tersedia 4 perawat dan bidan untuk setiap 10.000 orang.

14. Mitos fase bulan - Amerika
Dalam sebuah penelitian di sebuah rumah sakit di Amerika, lebih dari 80% dari ED (Emergency Nurse) percaya bahwa pada fase bulan akan dapat mempengaruhi pasien dan kesehatan mental mereka.

15. Mitos kata “tenang” – Amerika
Empat puluh delapan persen dari perawat yang merawat di sebuah rumah sakit Chicago percaya bahwa mengatakan kata “tenang” dengan suara keras akan membawa kutukan kepada mereka dan membuat pekerjaan dalam shift mereka menjadi lebih sulit.

16. Dokter menjadi perawat – Filipina
Sejumlah besar dokter di Filipina kembali bersekolah untuk menjadi perawat. Setelah lulus mereka kemudian datang ke Amerika Serikat untuk mendapatkan lebih banyak uang sebagai perawat dari pada menjadi dokter di negeri sendiri.

Lihat Selengkapnya