Alhamdulillah Program Studi Keperawatan & Program Pendidikan Profesi Ners STIKes SURYA GLOBAL meraih Peringkat B Baik dari Lembaga Akreditasi Mandiri Perguruan Tinggi Kesehatan LAM PTKes dengan nomor: 0125 LAM PTKes Akr Sar III 2019 dan 0126 LAM PTKes Akr Pro III 2019 -- PENDAFTARAN MAHASISWA BARU STIKES SURYA GLOBAL 2019 2020 telah DIBUKA -- Program Studi S 1 Kesehatan Masyarakat Konsentrasi: Manajemen Rumah Sakit, Sistem Informasi Kesehatan, Kesehatan Reproduksi Akreditasi Peringkat B SK No. 157 BAN PT Ak XVI S VII 2013 -- ♦ Jadilah Sarjana Kesehatan sekaligus Penghafal Qur an ♦ Gantilah sebagian biaya Kuliahmu dengan menghapalkan Al Qur an ☺

Berita

Jumat, 10 Maret 2017, 10:20 WIB

MTQ se-DIY & JATENG Tingkat SMA sederajat, Mahasiswa/Umum

2-9 APRIL 2017 di KAMPUS STIKES SURYA GLOBAL YOGYAKARTA

Assalamu'alaikum wr.wb.

*Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.*
(Q.S al-baqarah : 2)

...Coming soon...

📖 *MTQ se-DIY & JATENG* 📖
~Tingkat SMA sederajat, Mahasiswa/Umum~
🍃 "Bersama Generasi Islam Membangun Peradaban Dunia Yang Cinta Kepada Al-Qur'an" 🍃
📆 *2-9 APRIL 2017*
🕌 *KAMPUS STIKES SURYA GLOBAL YOGYAKARTA*
-------------------
⏰ *[REMEMBER]* ⏰
-------------------
🎊 *Grand Opening MTQ*
🔺Tanggal: 2 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Aula Graha SSG
📖 *Tilawatil Qur'an*
🔺Tanggal: 3 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Masjid SSG
🔺HTM: Rp.50.000
📒 *Karya Tulis Al-Qur'an*
🔺Tanggal: 3 April 2017
🔺Waktu: 07.00-selesai
🔺Tempat: Aula Graha SSG
🔺HTM: Rp.50.000
📿 *Tahfidzul Qur'an*
🔺Tanggal: 4 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Masjid SSG
🔺HTM: Rp. 50.000
📜 *Puitisasi Al-Qur'an*
🔺Tanggal: 4 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Aula Graha SSG
🔺HTM: Rp.30.000
📚 *Fahmil Qur'an*
🔺Tanggal: 5 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Aula Graha SSG
🔺HTM: Rp.150.000
🎙 *Syarhil Qur'an*
🔺Tanggal: 6 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Aula Graha SSG
🔺HTM: Rp.150.000
✒ *Kaligrafi*
🔺Tanggal: 7 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Masjid SSG
🔺HTM: Rp.50.000
👳🏼♀ *Da'i/Da'iyah*
🔺Tanggal: 7 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Aula Graha SSG
🔺HTM: Rp.50.000
🎤 *Festifal nasyid*
🔺Tanggal: 8 April 2017
🔺Waktu: 08.00-selesai
🔺Tempat: Kampus SSG
🔺HTM: Rp.Rp.150.000
👳🏻 *Tabligh Akbar*
🔺Tanggal: 9 April 2017
🔺Waktu: 07.30-selesai
🔺Tempat: Kampus SSG
〰〰〰〰〰〰〰〰〰

🎁 *FASILITAS:*
🔹Snack 🍟
🔸Konsumsi 🍱
🔹Penginapan (untuk peserta
luar jawa) 🏠

🏅 *Penghargaan*
🔸Tropi 🏆
🔹E-Sertifikat 📇
🔸Uang Pembinaan 💰
____________________
🔰Let's Join Us! 🔰
☎ *Cara daftar* ☎
Ketik:
*Nama _ Asal sekolah/kampus _ cabang lomba*
📲 Kirim ke:
🙆🏻♂ Ikhwan *(085349486048)*
🙆🏻 Akhwat *(082345177347)*
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^

🔴 *Info Khusus* 🔴
📍 *Lomba Karya tulis ilmiah Al-Qur'an*
📚 Pengumpulan Karya Tulis Max: 30 Maret 2017
📧 Kirim e-mail: syiarjakhfi@gmail.com
📞 Pengumuman 10 Besar: 1 April 2017 (via email)
📍Info lebih lanjut mengenai lomba dapat dilihat diblog *www.ldkjakhfissg.blogspot.com*.
📍 *Regristrasi Via ATM*
💳 No.Rek ( *BRI: 3437-01-014781-53-9 an. Iswandi zulpahmiansyah* )
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Yuk! Segera daftarkan dirimu dan terus update Info mengenai MTQ di Sosmed kami...

✔ *Regards*
🐳 Twitter: @ldk_jakhfissg
👥 fb: Ldk Jakhfi
📷 ig: @ldk_jakhfi
📺 Chennel: Al-Kahfi Media
📩 Email: syiarjakhfi@gmail.com
📡 Webside: ldkjakhfissg.blogspot.com
Lihat Selengkapnya
Jumat, 20 Januari 2017, 1:44 WIB

Kebijakan Khilafah di Bidang Kesehatan

Oleh: dr. Muhammad Usman, AFK (Dewan Penasehat HELP-S) dan Yahya Abdurrahman

Kebijakan Khilafah di Bidang Kesehatan

Oleh: dr. Muhammad Usman, AFK (Dewan Penasehat HELP-S) dan Yahya Abdurrahman



Berbagai fakta historis kebijakan di bidang kesehatan yang pernah dijalankan oleh pemerintahan Islam sejak masa Rasul saw. menunjukkan taraf yang sungguh maju. Pelayanan kesehatan gratis diberikan oleh negara (Khilafah) yang dibiayai dari kas Baitul Mal. Adanya pelayanan kesehatan secara gratis, berkualitas dan diberikan kepada semua individu rakyat tanpa diskriminasi jelas merupakan prestasi yang mengagumkan.

Hal itu sudah dijalankan sejak masa Rasul saw. Delapan orang dari Urainah datang ke Madinah menyatakan keislaman dan keimanan mereka. Lalu mereka menderita sakit gangguan limpa. Nabi saw. Kemudian merintahkan mereka dirawat di tempat perawatan, yaitu kawasan penggembalaan ternak milik Baitul Mal di Dzi Jidr arah Quba’, tidak jauh dari unta-unta Baitul Mal yang digembalakan di sana. Mereka meminum susunya dan berada di tempat itu hingga sehat dan pulih.

Raja Mesir, Muqauqis, pernah menghadiahkan seorang dokter kepada Nabi saw. Beliau menjadikan dokter itu untuk melayani seluruh kaum Muslim secara gratis. Khalifah Umar bin al-Khaththab, menetapkan pembiayaan bagi para penderita lepra di Syam dari Baitul Mal. Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah membangun rumah sakit bagi pengobatan para penderita leprosia dan lepra serta kebutaan. Para dokter dan perawat yang merawat mereka digaji dari Baitul Mal. Bani Thulan di Mesir membangun tempat dan lemari minuman yang di dalamnya disediakan obat-obatan dan berbagai minuman. Di tempat itu ditunjuk dokter untuk melayani pengobatan.

Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Menurut Ketua Institut Internasional Ilmu Kedokteran Islam, Husain F Nagamia MD, di dunia, rumah sakit yang sebenarnya baru dibangun dan dikembangkan mulai awal kejayaan Islam dan dikenal dengan sebutan ‘Bimaristan’ atau ‘Maristan’. Rumah sakit, meski baru tahap awal dan belum bisa benar-benar disebut RS, pertama kali dibangun pada masa Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. RS Islam pertama yang sebenarnya dibangun pada era Khalifah Harun ar-Rasyid (786 M – 809 M). Konsep pembangunan beberapa RS di Baghdad itu dan pemilihan tempatnya merupakan ide brilian dari ar-Razi, dokter Muslim terkemuka. Djubair, seorang sejarahwan yang pernah mengunjungi Baghdad tahun 1184 M, melukiskan bahwa rumah sakit-rumah sakit itu memiliki bangunan megah dan dilengkapi dengan peralatan modern.



Menurut M. Husain Abdullah, pada masa Khilafah Abbasiyah, banyak rumah sakit dibangun di Baghdad, Kairo, dan Damaskus. Pada masa itu pula, untuk pertama kalinya, ada rumah sakit berjalan (semacam ambulans). (M. Husain Abdullah, Dirasat fi al-Fikri al-Islami, hlm. 88).
Menurut Dr. Hossam Arafa dalam tulisannya, Hospital in Islamic History,pada akhir abad ke-13, RS sudah tersebar di seantero Jazirah Arabia. Rumah sakit-rumah sakit itu untuk pertama kalinya di dunia mulai menyimpan data pasien dan rekam medisnya. Konsep itu hingga kini digunakan RS yang ada di seluruh dunia.

Semua itu didukung dengan tenaga medis yang profesional baik dokter, perawat dan apoteker. Di sekitar RS didirikan sekolah kedokteran. RS yang ada juga menjadi tempat menempa mahasiswa kedokteran, pertukaran ilmu kedokteran, serta pusat pengembangan dunia kesehatan dan kedokteran secara keseluruhan. Dokter yang bertugas dan berpraktik adalah dokter yang telah memenuhi kualifikasi tertentu. Khalifah al-Muqtadi dari Bani Abbasiyah memerintahkan kepala dokter Istana, Sinan Ibn Tsabit, untuk menyeleksi 860 dokter yang ada di Baghdad. Dokter yang mendapat izin praktik di RS hanyalah mereka yang lolos seleksi yang ketat. Khalifah juga memerintahkan Abu Osman Said Ibnu Yaqub untuk melakukan seleksi serupa di wilayah Damaskus, Makkah dan Madinah.

Pada masa Khilafah Abbasiyah itu pula untuk pertama kalinya ada apotik. Yang terbesar adalah apotik Ibnu al-Baithar. Saat itu, para apoteker tidak diijinkan menjalankan profesinya di apotik kecuali setelah mendapat lisensi dari negara. Para apoteker itu mendatangkan obat-obatan dari India dan dari negeri-negeri lainnya, lalu mereka melakukan berbagai inovasi dan penemuan untuk menemukan obat-obatan baru (M. Husain Abdullah, Dirâsât fî al-Fikri al-Islâmî, hlm. 89).

Paradigma Islam Tentang Kesehatan

Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ، آمِنًا فِي سِرْبِهِ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

"Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya." (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrâd, Ibn Majah dan Tirmidzi).

Dalam hadis ini kesehatan dan keamanan disejajarkan dengan kebutuhan pangan. Ini menunjukkan bahwa kesehatan dan keamanan statusnya sama sebagai kebutuhan dasar yang harus terpenuhi.

Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar itu. Nabi saw. bersabda:

اْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
"Imam (Khalifah) laksana penggembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR al-Bukhari).

Tidak terpenuhi atau terjaminnya kesehatan dan pengobatan akan mendatangkan dharar bagi masyarakat. Dharar (kemadaratan) wajib dihilangkan. Nabi bersabda:

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارً
Tidak boleh membahayakan orang lain dan diri sendiri (HR Malik).

Dengan demikian, kesehatan dan pengobatan merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak rakyat dan menjadi kewajiban negara.




Kebijakan Kesehatan


Dalam Islam, sistem kesehatan tersusun dari 3 (tiga) unsur sistem.Pertama: peraturan, baik peraturan berupa syariah Islam, kebijakan maupun peraturan teknis administratif. Kedua: sarana dan peralatan fisik seperti rumah sakit, alat-alat medis dan sarana prasarana kesehatan lainnya.Ketiga: SDM (sumber daya manusia) sebagai pelaksana sistem kesehatan yang meliputi dokter, perawat, dan tenaga medis lainnya. (S. Waqar Ahmed Husaini, Islamic Sciences, hlm. 148).

Kebijakan kesehatan dalam Khilafah akan memperhatikan terealisasinya beberapa prinsip. Pertama: pola baku sikap dan perilaku sehat. Kedua: Lingkungan sehat dan kondusif. Ketiga: pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Keempat: kontrol efektif terhadap patologi sosial. Pembangunan kesehatan tersebut meliputi keseimbangan aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Promotif ditujukan untuk mendorong sikap dan perilaku sehat. Preventif diprioritaskan pada pencegahan perilaku distortif dan munculnya gangguan kesehatan. Kuratif ditujukan untuk menanggulangi kondisi patologis akibat penyimpangan perilaku dan munculnya gangguan kesehatan. Rehabilitatif diarahkan agar predikat sebagai makhluk bermartabat tetap melekat.

Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik secara fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan kepribadian Islam itu sendiri. Dalam hal ini, keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Dr. Ahmed Shawky al-Fangary1 menyatakan bahwa syariah sangat concern pada kebersihan dan sanitasi seperti yang dibahas dalam hukum-hukum thaharah. Syariah juga memperhatikan pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan seperti perintah untuk memakan makanan halal dan thayyib (bergizi), larangan atas makanan berbahaya, perintah tidak berlebihan dalam makan, makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang, mengisi perut dengan 1/3 makanan, 1/3 air dan 1/3 udara, termasuk kaitannya dengan syariah puasa baik wajib maupun sunah. Syariah juga menganjurkan olah raga dan sikap hidup aktif. Syariah juga sangat memperhatikan masalah kesehatan dan pola hidup sehat dalam masalah seksual.

Jadi, menumbuhkan pola baku sikap dan perilaku sehat tidak lain adalah dengan membina kepribadian Islam dan ketakwaan masyarakat. Tentu hal itu bukan hanya menjadi domain kesehatan tetapi menjadi tanggung jawab pemerintah dan masyarakat umumnya.



Kebijakan kesehatan Khilafah juga diarahkan bagi terciptanya lingkungan yang sehat dan kondusif. Tata kota dan perencanaan ruang akan dilaksanakan dengan senantiasa memperhatikan kesehatan, sanitasi, drainase, keasrian, dsb. Hal itu sudah diisyaratkan dalam berbagai hadis, seperti:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ, نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ, كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ, جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ, فَنَظِّفُوا بُيُوْتَكُمْ وَ أَفْنِيَتَكُمْ وَلاَ تَشَبَّهُوْا بِالْيَهُودِ

"Sesungguhnya Allah Mahaindah dan mencintai keindahan, Mahabersih dan mencintai kebersihan, Mahamulia dan mencintai kemuliaan. Karena itu, bersihkanlah rumah dan halaman kalian, dan janganlah kalian menyerupai orang-orang Yahudi." (HR at-Tirmidzi dan Abu Ya’la).

اتَّقُوا الْمَلاَعِنَ الثَّلاَثَةَ الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ وَالظِّلِّ

"Jauhilah tiga hal yang dilaknat, yaitu buang air dan kotoran di sumber/saluran air, di pinggir atau tengah jalan dan di tempat berteduh(HR Abu Dawud).

Rasul saw. juga bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian buang air di air yang tergenang.” (HR Ashhab Sab’ah).

Jabir berkata, “Rasulullah melarang buang air di air yang mengalir.” (HR Thabarani di al-Awsath).

Di samping itu juga terdapat larangan membangun rumah yang menghalangi lubang masuk udara rumah tetangga, larangan membuang sesuatu yang berbahaya ke jalan sekaligus perintah menghilangkannya meski hanya berupa duri.

Beberapa hadis ini dan yang lain jelas mengisyaratkan disyariatkannya pengelolaan sampah dan limbah yang baik, tata kelola drainasi dan sanitasi lingkungan yang memenuhi standar kesehatan, dan pengelolaan tata kota yang higienis, nyaman sekaligus asri. Tentu saja itu hanya bisa direalisasikan melalui negara, bukan hanya melibatkan departemen kesehatan, tetapi juga departemen-departemen lainnya. Tata kota, sistem drainase dan sanitasi kota kaum Muslim dulu seperti Baghdad, Samara, Kordoba, dsb telah memenuhi kriteria itu dan menjadi model bagi tata kota seperti London, kota-kota di Perancis dan kota-kota lain di Eropa.

Pelayanan kesehatan berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara (Khilafah) karena negara (Khilafah) berkewajiban menjamin pemenuhan kebutuhan dasar berupa kesehatan dan pengobatan. Karenanya, Khilafah wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboratorium medis, apotik, pusat dan lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan dan sekolah lainnya yang menghasilkan tenaga medis, serta berbagai sarana prasarana kesehatan dan pengobatan lainnya. Negara juga wajib mengadakan pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan; menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, psikiater, penyuluh kesehatan dan lainnya.

Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya atau miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara ataupun harta milik umum.

Semua pelayanan kesehatan dan pengobatan harus dikelola sesuai dengan aturan syariah termasuk pemisahan pria dan wanita serta hukum-hukum syariah lainnya. Juga harus memperhatikan faktor ihsan dalam pelayanan, yaitu wajib memenuhi 3 (tiga) prinsip baku yang berlaku umum untuk setiap pelayanan masyarakat dalam sistem Islam: Pertama, sederhana dalam peraturan (tidak berbelit-belit). Kedua, cepat dalam pelayanan. Ketiga, profesional dalam pelayanan, yakni dikerjakan oleh orang yang kompeten dan amanah. Wallâh a’lam bi ash-shawâb.







Catatan Kaki:
1. Dr. Ahmed Shawky al-Fangary, The Impact of Islam and Its Teachings on Preservation of Individual and Public Health, http://www.crescentlife.com/w…/impact_of_islam_on_health.htm

Sumber: http://helpsharia.com/…/kebijakan-khilafah-di-bidang-keseh…/

Lihat Selengkapnya
Selasa, 16 Agustus 2016, 9:41 WIB

Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Oleh: Dr. Adian Husaini

Ulama Dalam Kemerdekaan dan Pembangunan

Oleh: Dr. Adian Husaini


PEMBUKAAN UUD 1945 menegaskan: “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur…”.  Rumusan itu sungguh indah, sesuai dengan rumusan aqidah ahlus sunnah, memadukan aspek rahmat Allah dan usaha manusia. Bangsa Indonesia berjuang merebut kemerdekaan dan kita mengakui, bahwa Allah Subhanahu Wata’ala adalah yang menganugerahi kemerdekaan. Pengakuan itu kita letakkan dalam Pembukaan Konstitusi, dan biasanya dibaca setiap upacara bendera.


Dengan pemahaman seperti itu, sepatutnya bangsa Indonesia, dan kaum Muslim khususnya, tidak boleh merasa angkuh, bahwa kemerdekaan itu diraih semata-mata karena usaha perjuangan rakyat Indonesia. Tapi, kemerdekaan adalah anugerah Allah, sehingga kemerdekaan kita pahami sebagai nikmat dari Allah yang wajib kita syukuri. Syukur, maknanya menggunakan nikmat itu sesuai dengan Yang Memberi Nikmat, bukan menurut hawa nafsu kita. Semoga kita dan para pemimpin kita sadar akan makna penting dari kemerdekaan.

Rumusan penting itu memang  dihasilkan dari goresan tinta ulama dan cendekiawan Muslim yang berunding dalam Panitia Sembilan dalam BPUPKI tahun 1945 yang menghasilkan dokumen sejarah penting, yaitu Piagam Jakarta.  Syukurlah, rumusan “Atas berkat rahmat Allah… “ itu tidak dituntut untuk dicoret sebagaimana rumusan tujuh kata “(Ketuhanan)… dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Seperti kita pahami, “tujuh kata” itu kemudian dicoret dalam sidang PPKI, 18 Agustus 1945. Bung Hatta mengaku, ia mendapat telepon dari seorang perwira Jepang yang mengaku menyampaikan aspirasi kaum Kristen Indonesia Timur. Bahwa, mereka tidak mau bergabung dengan NKRI jika “tujuh kata” itu tidak dihapus. Hingga kini, peristiwa seputar pencoretan “tujuh kata” itu masih misterius, sebab sampai meninggalnya, Bung Hatta tidak membuka siapa sebenarnya perwira Jepang yang meneleponnya tersebut.

Tapi, bagaimana pun, peristiwa itu telah menjadi sejarah. Kita ambil hikmahnya.  Bagi umat Islam, tanggal 17 Agustus 1945, adalah hari yang patut disyukuri sebagai rahmat Allah Subhanahu Wata’ala, dan tanggal 18 Agustus 1945 adalah hari yang jangan dilupakan. Itulah hari dimana para tokoh Islam menerima tuntutan kaum Kristen Indonesia Timur, demi  terpeliharanya kemerdekaan dan juga demi persatuan dan kesatuan NKRI.

Kita perlu mengingat kembali, bahwa setelah Puagam Jakarta ditetapkan, masih ada sebagian anggota BPUPKI yang menggugatnya. Akhirnya, Bung Karno sendiri menegaskan: “Saya ulangi lagi bahwa ini satu kompromis untuk menyudahi kesulitan antara kita bersama. Kompromis itu pun terdapat sesudah keringat kita menetes. Tuan-tuan, saya kira sudah ternyata bahwa kalimat “dengan didasarkan kepada ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” sudah diterima Panitia ini.”

Piagam Jakarta adalah naskah pembukaan (preambule) Undang-undang Dasar (UUD) 1945 yang disiapkan untuk konstitusi Negara Indonesia merdeka. Ketika naskah pembukaan itu sudah disepakati, maka naskah-naskah rincian pasal-pasal dalam UUD 1945 masih menjadi masalah yang diperdebatkan.


Dalam , KH Wahid Hasyim mengusulkan, agar Presiden adalah orang Indonesia asli dan “yang beragama Islam”. Begitu juga draft pasal 29 diubah dengan ungkapan: “Agama Negara ialah agama Islam”, dengan menjamin kemerdekaan orang-orang yang beragama lain, untuk dan sebagainya. Kata Kyai Wahid Hasyim: “Hal ini erat perhubungan dengan pembelaan. Pada umumnya pembelaan yang berdasarkan atas kepercayaan sangat hebat, karena menurut ajaran agama, nyawa hanya boleh diserahkan buat ideologi agama.”


Usul KH Wahid Hasyim disokong oleh Soekiman. Tapi, Haji Agus Salim mengingatkan, bahwa usul itu berarti mementahkan kembali kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya antara golongan Islam dan golongan kebangsaan. Usulan Wahid Hasyim akhirnya ditolak. Tapi, pada sidang tanggal 14 Juli 1945, Ki Bagus Hadikoesoemo, tokoh Muhammadiyah kembali mengangkat usul Kyai Sanusi yang meminta agar frase “bagi pemeluk-pemeluknya” dalam Piagam Jakarta dihapuskan saja. Jadi, bunyinya menjadi: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam.”

Menanggapi permintaan KIai Sanusi dan Ki Bagus Hadikoesoemo, Soekarno kembali mengingatkan akan adanya kesepakatan yang telah dicapai dalam Panitia Sembilan. Soekarno, lagi-lagi meminta kepada seluruh anggota BPUPKI:



“Sudahlah hasil kompromis diantara 2 pihak, sehingga dengan adanya kompromis itu, perselisihan diantara kedua pihak hilang. Tiap kompromis berdasar kepada memberi dan mengambil, geven dan nemen. Ini suatu kompromis yang berdasar memberi dan mengambil… Pendek kata, inilah kompromis yang sebaik-baiknya. Jadi, panitia memegang teguh akan kompromis yang dinamakan oleh anggota yang terhormat Muh. Yamin “Djakarta Charter”, yang disertai perkataan Tuan anggota Soekiman, gentlemen agreement, supaya ini dipegang teguh di antara pihak Islam dan pihak kebangsaan.” (Tentang perdebatan dalam BPUPKI, lihat A.B. Kusuma, Lahirnya Undang-undang Dasar 1945, Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Hukum Uiversitas Indonesia, 2004).


Semangat Jihad

Peristiwa tanggal 18 Agustus 1945 membuktikan kebesaran jiwa para ulama dan tokoh Islam dalam menyikapi persatuan dan kesatuan bangsa. Tentunya, sikap itu merupakan rangkaian panjang dari keterlibatan para ulama dalam berbagai perjuangan merebut kemerdekaan dari penjajah. Memang, sejarah mencatat, goresan tinta ulama memiliki andil signifikan dalam meraih kemerdekaan NKRI.

Bahkan, perjuangan mengusir penjajah, sering kali memadukan goresan tinta ulama dan kucuran darah syuhada. Penjajahan bukan soal politik dan ekonomi, tetapi juga masalah iman. Sebab, penjajah membawa misi  “Gospel”, yakni menyebarkan agama mereka dan merusak keagamaan penduduk muslim. Karena itu, sepanjang sejarah perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan, peranan para ulama Islam sangat menonjol.

Dalam buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII, (2005), Azyumardi Azra mengungkap sejumlah contoh perjuangan para ulama dalam melawan penjajah. Sebutlah contoh Syekh Yusuf al-Maqassari (1627-1629M). Ulama terkenal ini bukan hanya mengajar dan menulis kitab-kitab keagamaan, tetapi juga memimpin pasukan melawan penjajah. Tahun 1683, setelah tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa, Syekh Yusuf Maqassari memimpin sekitar 4.000 pasukan di hampir seluruh wilayah Jawa Barat.

Menurut satu versi, Syekh Yusuf berhasil ditangkap setelah komandan pasukan Belanda, van Happel, berhasil menyusup ke markas Syekh Yusuf, dengan menyamar sebagai Muslim dengan pakaian Arab. Syekh Yusuf pun dibuang ke Srilanka dan Afrika Selatan untuk mengurangi pengaruhnya. Tapi, justru di kedua tempat itu, Syekh Yusuf berhasil mengembangkan Islam dengan mengajar dan menulis. Usaha Belanda untuk mengkristenkan Syekh Yusuf juga gagal. Sarjana Evangelis Belanda, Samuel Zwemer, mengkritik Petrus Kalden, pendeta dari Gereja Belanda Tua Cape Town, yang gagal menjadikan Syekh Yusuf sebagai pemeluk Kristen.

Ulama lain, Syekh Abd al-Shamad al-Palimbani (1704-1789), dikenal sebagai ulama paling terkemuka dari wilayah Palembang. Meskipun menetap Mekkah, Syekh Abd al-Shamad memiliki kepedulian kuat terhadap kondisi Nusantara dan mendorong kaum Muslim untuk melaksanakan jihad melawan penjajah.

Sebuah kitab berbahasa Arab tentang keutamaan jihad fi-sabilillah ditulisnya dengan judul Nashihah al-Muslim wa-Tadzkirah al-mu’minin fi-Fadhail al-Jihad fi-Sabilillah wa-Karamah al-Mujahidin fi-Sabilillah. Melalui kitabnya ini, Syekh al-Palimbani menjelaskan bahwa wajib hukumnya bagi kaum Muslim untuk melakukan jihad melawan kaum kafir.

Dalam The Achehnese, seperti dikutip Azra, Snouck Hurgronje menyebutkan bahwa karya Syekh al-Palimbani merupakan sumber rujukan utama berbagai karya mengenai jihad dalam Perang Aceh yang sangat panjang melawan Belanda, mulai 1873 sampai awal abad ke-20. Kitab ini menjadi model imbauan agar kaum Muslim berjuang melawan kaum kafir.

Bahkan, setelah kemerdekaan diraih, para ulama tetap mengawal kemerdekaan Indonesia. Itu ditunjukkan oleh kepahlawanan KH Hasyim Asy’ari dengan fatwa jihadnya, pada 14 September1945.

Isi Resolusi Jihad yang diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa Madura itu antara lain berbunyi: (1) Kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan, (2) Umat Islam, terutama warga NU, wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia, (5) Kewajiban tersebut adalah “jihad” yang menjadi kewajiban bagi tiap-tiap orang Islam (fardhu ain) yang berada dalam jarak radius 94 km (yakni jarak dimana umat Islam boleh melakukan shalat jama’ dan qasar). Adapun bagi mereka yang berada di luar jarak tersebut, wajib membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak 94 km tersebut. Dalam teks lain, ada tambahan: “Kaki tangan musuh adalah pemecah belah kebulatan tekad dan kehendak rakyat dan harus dibinasakan; menurut hukum Islam sabda hadits (Nabi) riwayat Muslim.”

Dampak dari Resolusi Jihad itu sungguh luar biasa. Puluhan ribu kyai dan santri berperang melawan tentara Sekutu, yang baru saja memenangkan Perang Dunia kedua. Lima belas ribu tentara Sekutu dengan persenjataan serba canggih tak mampu menghadapi pasukan perlawanan pasukan kyai dan santri. Bahkan,  Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby tewas di tangan laskar santri. (Lihat, el-Guyanie, Resolusi Jihad Paling Syar’i, 2010).


Dimana Ulama Kini?

Fatwa jihad KH Hasyim Asy’ari – yang ketika itu juga sebagai pemimpin tertinggi umat Islam di Indonesia, sebagai Ketua Majelis Syuro Masyumi — menunjukkan kebesaran jiwa para ulama dalam menyikapi kemerdekaan Indonesia. Sikap itu juga menunjukkan kedewasaan berpolitik dalam bingkai NKRI.  Meskipun tidak seluruh tuntutan dan cita-cita para ulama itu terpenuhi dalam memperjuangkan dasar negara, tetapi mereka “tidak ngambek” atau lari dari NKRI.  Fatwa bahwa mempertahankan kemerdekaan RI adalah wajib hukumnya, menunjukkan pembelaan hidup-mati umat Islam Indonesia terhadap kemerdekaan Indonesia.

Merenungkan sejarah perjuangan para ulama dalam memperjuangkan dan membela kemerdekaan Indonesia itu, kita patut bertanya sekarang, di mana para ulama itu ditempatkan? Dalam upacara peringatan kemerdekaan, biasanya ulama ditempatkan dalam posisi “terhormat” sebagai “tukang baca doa”.  Lumayan! Daripada tidak sama sekali! Akan tetapi, apakah ulama diajak rembukan untuk memusyawarahkan, bagaimana seharusnya bangsa kita ini mensyukuri nikmat kemerdekaan yang katanya diraih “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa” itu?

Mengapa memperingati kemerdekaan yang resmi dan diakui oleh institusi kenegaraan hanya berupa upacara bendera? Bagaimana jika bentuk peringatan resmi kemerdekaan RI itu dilakukan dengan khataman al-Quran dan pembacaan kisah-kisah perjuangan para pahlawan di seluruh masjid di Indonesia? Bukankah itu sesuatu yang bagus?  Silakan yang melaksanakan lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang; tetapi tidak ada salahnya jika Presiden bersama para ulama memberi contoh memperingati kemerdekaan dengan acara ibadah di masjid. Agak aneh, bahwa masjid-masjid di Indonesia belum terdengar menyelenggarakan acara peringatan kemerdekaan RI, padahal, kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan yang panjang oleh para ulama dan para syuhada.

Lebih menyedihkan, setelah kemerdekaan, ada usaha – sadar atau tidak – untuk menyingkirkan ulama dari perumusan konsep-konsep pembangunan untuk mengisi kemerdekaan. Ulama dijadikan sebagai makhluk yang berharga terutama saat menjelang pilihan presiden atau pilkada.  Saat diperlukan – kadang ulama didatangi; diminta doa, restu, atau dukungan politik, agar jabatan politik diraih; agar hujan turun saat kekeringan; agar krisis berlalu saat dilanda krisis. Setelah semua kebutuhan terpenuhi, ulama ditinggalkan, diposisikan sebagai “pendorong mobil mogok”.

Tapi, itu pun masih lumayan; daripada para pejabat datang ke dukun-dukun klenik. Ulama adalah pewaris Nabi. Mereka  wajib menjaga diri. Tugas utamanya adalah melanjutkan perjuangan menegakkan misi kenabian. Ulama tidak perlu minta dihormati, apalagi sampai “gila hormat”.  Kata Imam al-Ghazali, jika ulama rusak, cinta harta dan kehormatan (hubbul mal wal-jah), maka rusaklah penguasa. Jika penguasa rusak, maka rakyat pun binasa.

Sejarah telah membuktikan, bagaimana para ulama kita begitu hebat perjuangannya dalam menyebarkan dan menjaga Islam di seluruh negeri. Begitu hebat dan cerdiknya para Wali Songo yang mendidik dan kemudian mengangkat Raden Patah sebagai Raja Muslim pertama di Tanah Jawa. Jika ulama setia pada perjuangan menegakkan cita-cita mulia para anbiya, pasti para penguasa tak akan memandang mereka hina! Wallahu A’lam.*

Penulis adalah Ketua Program Magister dan Doktor Pendidikan Islam—Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan (CAP) hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

Lihat Selengkapnya
Senin, 27 Juni 2016, 10:56 WIB

MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN

MANFAAT PUASA BAGI KESEHATAN


Bulan suci Ramadhan merupakan sebuah bulan dimana lebih baik dari 1000 bulan. Selain itu, bulan Ramadhan juga menjadi bulan pernah berkah dimana sangat dinantikan oleh setiap muslim di dunia. Tentu, setiap umat Muslim menjalankan puasa dengan menahan lapar serta haus serta hawa nafsu negatif lainnya.

Dengan menahan lapar dan haus di bulan Ramadhan, maka anda akan mendapat beribu manfaat yang luar biasa, diantaranya manfaat bagi kesehatan:

1. Yang paling utama adalah proses detoksifikasi (menghilangkan racun tubuh) karena makanan diistirahatkan untuk dicerna, sehingga hati dan ginjal bisa maksimal membersihkan sisa makanan dan racun yg mengendap. Makanan yang banyak dan tidak terkontrol merupakan sebab penyakit, demikian juga berdasarkan hadits bahwa perut manusia adalah sejelek-sejelak wadah yang diisi.

Sebagaimana hadits:

ﻣﺎ ﻣﻸ ﺁﺩﻣﻲٌّ ﻭﻋﺎﺀً ﺷﺮًّﺍ ﻣﻦ ﺑﻄﻦ، ﺑﺤﺴﺐ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺃﻛﻼﺕ ﻳُﻘﻤﻦ ﺻﻠﺒَﻪ، ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻻ ﻣﺤﺎﻟﺔ، ﻓﺜُﻠﺚٌ ﻟﻄﻌﺎﻣﻪ، ﻭﺛﻠﺚٌ ﻟﺸﺮﺍﺑﻪ، ﻭﺛﻠﺚٌ ﻟﻨﻔَﺴِﻪ

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas” [HR At-Tirmidzi di-shahih-kan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah 2265]

Imam Al-Ghazali berkata:

ﺇﻥ ﻓﻲ ﻗﻠﺔ ﺍﻷﻛﻞ ﺻﺤﺔَ ﺍﻟﺒﺪﻥ، ﻭﺩﻓﻊَ ﺍﻷﻣﺮﺍﺽ؛ ﻓﺈﻥ ﺳﺒﺒﻬﺎ ﻛﺜﺮﺓ ﺍﻷﻛﻞ

“Makan sedikit bisa menyehatkan badan dan mencegah penyakit, karena sebab penyakit adalah banyaknya makan” (Ihya ‘ulumuddin 3/83)


2. Ketika kita berniat sahur malam hari, maka dengan niat ini atas perintah otak akan mengatur “mindset” tubuh agar:

  • Metobolisme tubuh dikurangi untuk hemat energi, sehingga otomatis mengurangi emosi, karena emosi itu butuh energi yg besar
  • Metabolisme turun bisa menurunkan hipertensi dan kadar gula darah, dan kolesterol serta baik bagi pembuluh darah dan jantung
  • Pengeluaran asam lambung dikurangi, sehingga tidak merasa lapar. Ini bagus untuk penderita maag, karena mayoritas maag,  bukan karena penyakit, tetapi karena psikologis stres dan depresi
  • Kekebalan tubuh akan meningkat karena aktifnya beberapa zat yang memacu kekebalan tubuh
Inilah pentingnya sahur yaitu berniat, jika tidak berniat maka tubuh dan otak tidak mengatur “mindset

Dalam sahur terdapat berkah sebagaimana dalam hadits:

ﺗَﺴَﺤَّﺮُﻭﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﻓِﻰ ﺍﻟﺴَّﺤُﻮﺭِ ﺑَﺮَﻛَﺔً

“Makan sahurlah kalian karena dalam makan sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari no. 1923 dan Muslim no. 1095)


Bahkan sahur ini yang membedakan puasa kita dengan puasa ahli kitab dalam hadits,

ﻓَﺼْﻞُ ﻣَﺎ ﺑَﻴْﻦَ ﺻِﻴَﺎﻣِﻨَﺎ ﻭَﺻِﻴَﺎﻡِ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﺃَﻛْﻠَﺔُ ﺍﻟﺴَّﺤَﺮِ

“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab (Yahudi dan  Nashrani) adalah makan sahur.” (HR. Muslim no. 1096)

Masih banyak lagi manfaat puasa lainnya bagi kesehatan dan kestabilan emosi serta kebahagiaan.

­­­­­­­­­­____________________
Sumber: dr. Raehanul Bahraen

 

 

Lihat Selengkapnya
Kamis, 28 April 2016, 3:59 WIB

Pentingnya NIRA, STR, & SIPP Bagi Seorang Perawat



Perawat merupakan seorang yang yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik didalam maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan (UUK. No. 38 tahun 2014).

Pemberian asuhan keperawatan merupakan tugas praktik keperawatan yang merupakan rangkaian interaksi perawat dengan klien dan lingkungannya untuk mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan dan kemandirian klien dalam merawat dirinya.

Dalam menjalankan praktik keperawatan perawat dituntut untuk memiliki NIRA, STR, dan SIPP hal ini sesuai dengan perautaran perundang-undangan, permenkes, dan juga peraturan organisasi profesi yang diakui oleh perundang-undangan yakni PPNI, mengapa NIRA, STR, & SIPP WAJIB dimiliki oleh perwat, berikut penjelasanya yang dianalisis dari Undang-Undang Keperawatan No. 38 Tahun 2014 dan AD/ART PPNI

  • NIRA (Nomor Induk Registrasi Anggota)

NIRA dikeluarkan oleh Dewan Pengurus Pusat (DPP) PPNI yang berlaku secara Nasional. Seorang perawat yang memiliki NIRA berarti perawat tersebut telah tercatat sebagai Anggota PPNI. Dalam pengurusan NIRA terbilang mudah perawat cukup mengakses simk.inna-ppni.or.id setelah itu melapor ke komisariat/ppni kab/kota telah melakukan pendaftaran NIRA secara online dan membayar besaran uang pangkal bagi anggota baru Rp. 100.000 ditambah iuran anggota sebesar Rp. 200.000 + Rp. 60.000 (unti ICN/Internation Council Nursing) jadi total pembayaran untuk menjadi anggota PPNI Rp. 360.000 (Rp. 100.000 uang pangkal & Rp. 260.000 iuran /tahun) hal ini sesuai dengan amanah AD/ART PPNI.

  • STR (Surat Tanda Registrasi)

STR merupakan bukti tertulis yang diberikan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) kepada perawat yang telah LULUS UJI KOMPETENSI (telah memiliki sertifikat kompetensi). UKOM (Uji Kompetensi) diselenggarakan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI Kemenristekdikti). Dengan memiliki STR menandakan perawat tersebut Kompoten dan bisa bekerja dipelayanan keperawatan baik difasilitas kesehatan ataupun mandiri. Persyaratan pengurusan STR perawat cukup menyediakan berkas (FC Ijazah Ners/Diploma, Sertifikat Kompetensi, & surat rekomendasi dari PPNI Provinsi) dan diajukan ke Majelis Tenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) yang berkantor di Dinas Kesehatan Provinsi.

  • SIPP (Surat Ijin Praktik Perawat)

SIPP bukti tertulis yang diberikan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota kepada perawat sebagai pemberian kewenangan untuk menjalankan praktik keperawatan. Untuk pengurusan SIPP perawat mengajukan berkas (STR, Rekomendasi PPNI Kab/kota domisili) diajukan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dimana perawat tersebut berdomisili. SIPP diberikan kepada perawat paling banyak 2 (Fasilitas kesehatan 1 dan Praktik Mandiri 1) untuk praktik mandiri perawat wajib mencantumkan papan praktik keperawatan.

Jadi dengan memiliki NIRA, STR, & SIPP perawat tersebut telah mematuhi aturan perundang-undangan sehingga dalam menjalankan praktik keperawatan perawat merasa aman dan nyaman.

Dikutip dari www.gustinerz.com

Lihat Selengkapnya
Rabu, 02 Maret 2016, 10:02 WIB

Musabaqoh Tilawatil Quran ke 4 (MTQ4) LDK Jamaah Al-Kahfi Pesantren Mahasiswa STIKes Surya Global Yogyakarta
































LDK Jamaah Al-Kahfi STIKes Surya Global Yogyakarta dalam Musabaqoh Tilawatil Quran yang ke 4 (MTQ4)

Adapun Rangkaian Acara MTQ 4 yaitu :

Grand Opening MTQ 4 
03 April 2016

Lomba Tilawatil Quran 
04 April 2016

Lomba Tahfidz Quran 
05 April 2016

Lomba Fahmil Quran 
06 April 2016

Lomba Syahril Quran 
07 April 2016

✒ Lomba Kaligrafi
08 April 2016

Lomba Dai dan Daiyah 
08 April 2016

Lomba Nasyid 
09 April 206

Tabligh Akbar MTQ 4
10 April 2016


Pembayaran pendaftaran melalui Rek : 7075062618 Bank Mandiri atas nama Sabri Lisa
Nb: Harap Konfirmasi jika sudah transfer dan bukti transfer disimpan
Informasi lebih lanjut bisa menghubungi 
Via WhatsApp 0895339983841
08996562402
BBM 59652AFF


Format Pendaftaran : Nama Lengkap_asal instansi_Cabang Lomba_no.Handphone

LDK Jakhfi 
Satu langkah 
Satu tujuan 
Kita Bisaa 
Allahu Akbar... !!!

Presented By : LDK Jamaah Al-Kahfi 
Supported By : ODOJ Jogja

===============
✔Regards
Twitter: @ldk_jakhfissg 
FB: LDK Jama'ah Al-Kahfi Stikes Surya Global Yogyakarta
Email: syiarjakhfi@gmail.com
Website: ldkjakhfissg.blogspot.com

Lihat Selengkapnya